Riset Kesehatan Tahun 2018 Persentase Anak Balita yang Stunting 30,8 Persen

Bangsa Indonesia masih mempunyai persoalan dalam masalah gizi. Bahkan Indonesia masuk menjadi salah satu negara yang mempunyai beban ganda masalah

Riset Kesehatan Tahun 2018 Persentase Anak Balita yang Stunting 30,8 Persen
Bangkapos.com/Nurhayati
Foto bersama usai pembukaan stakeholder terkait saat rapat kerja teknis pemetaan program kegiatan dan sumber anggaran dalam mendukung konvergensi percepatan pencegahan anak kerdil atau stunting, Selasa (30/7/2019) di Hotel Novilla Sungailiat. 

Riset Kesehatan Tahun 2018 Persentase Anak Balita yang Stunting 30,8 Persen

BANGKAPOS.COM -- Bangsa Indonesia masih mempunyai persoalan dalam masalah gizi. Bahkan Indonesia masuk menjadi salah satu negara yang mempunyai beban ganda masalah gizi.

Kondisi ini diungkapkan Sekwapres Koko Hariono, Kabid Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan dan Perlindungan Anak saat rapat kerja teknis pemetaan program kegiatan dan sumber anggaran dalam mendukung konvergensi percepatan pencegahan anak kerdil atau stunting, Selasa (30/7/2019) di Hotel Novilla Sungailiat.

"Di satu sisi kita menghadapi persoalan kekurangan gizi yang ditandai dengan tingginya angka stunting wasting dan underweight, tapi di sisi lain kita juga mulai menghadapi persoalan kelebihan gizi yang ditandai dengan naiknya angka kegemukan atau obesitas pada kelompok anak balita maupun penduduk usia dewasa," ungkap Koko.

Diakuinya, khusus terkait dengan Anak kerdil atau stunting berdasarkan dasar riset kesehatan tahun 2018 persentase anak balita yang stunting adalah 30,8%.

Artinya hampir satu dari tiga anak balita Indonesia mengalami kekurangan gizi dalam jangka waktu yang lama dari mulai masa kandungan hingga usianya mencapai dua tahun atau dikenal sebagai 1.000 hari pertama kehidupan.

Di sisi lain Indonesia juga menghadapi persoalan dengan anemia pada ibu hamil yang prevalensinya mencapai 48,9%, artinya hampir setengah dari ibu hamil yang ada di Indonesia mengalami anemia padahal anemia bisa menyebabkan terjadinya kelahiran prematur, pendarahan yang kemudian bisa menyebabkan kematian ibu saat melahirkan serta kekurangan gizi pada anak yang dikandungnya.

"Persoalan-persoalan tersebut harus kita atasi segera karena disamping mempunyai dampak yang sangat besar bagi kualitas manusia Indonesia yang akan datang stunting akan mempengaruhi kecerdasan kesehatan dan produktivitas. Jika tidak segera diatasi bonus demografi yang akan terjadi dalam beberapa tahun ke depan bisa berubah menjadi beban demografi. Dari sisi ekonomi Indonesia juga mengalami kerugian antara 2% sampai 3% dari total PDB setiap tahunnya," jelas Koko.

Ia menilai, pemerintah sudah sejak lama melaksanakan beberapa program yang terkait dengan pencegahan stunting tetapi hasilnya belum dapat dilihat secara optimal.

Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya adalah karena lemahnya kualitas pelaksanaan dan lemahnya koordinasi antar program.

Halaman
12
Penulis: nurhayati
Editor: Evan
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved