Berita Bangka Barat

Sebulan 5 Penambang Jadi Korban Tambang Ilegal Bukit Panjang

Tambang ilegal di kaki Bukit Panjang, Desa Mayang, Kecamatan Simpang Teritip, Kabupaten Bangka Barat menelan korban lagi.

Sebulan 5 Penambang Jadi Korban Tambang Ilegal Bukit Panjang
istimewa
Aparat kepolisian dari Polres Bangka Barat, Polsek Simpang Teritip, TNI dan warga mencari korban kecelakaaan tambang di Bukit Panjang, Desa Mayang, Kecamatan Simpang Teritip, Kabupatwn Bangka Barat, Selasa (30/7/2019). 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Tambang ilegal di kaki Bukit Panjang, Desa Mayang, Kecamatan Simpang Teritip, Kabupaten Bangka Barat menelan korban lagi. Total penambang yang tewas sebanyak lima orang.

Senin (15/7/2019) tiga penambang tewas tertimbun tanah lubang tambang. Tiga korban yang tewas Sampurna (20) warga Dusun 1 Desa Paradong, Arbana (40) dan Kasir (37) warga Dusun 1 Desa Pangek, Kecamatan Simpang Teritip.

16 hari kemudian Selasa (30/7/2019) tambang ilegal di kaki Bukit Panjang kembali menelan korban penambang.

Dua penambang Juhendri (33) dan Andi (30) tewas tertimbun tanah.

Mirisnya dua penambang ini tewas di lubang tambang yang sama. Bahkan lubang tambang ini masih terpasang tanda garis polisi (police line).

Kapolsek Simpang Teritip, Iptu Astrian Tomi mengakui bila lubang tambang tersebut terlarang untuk beraktivitas. Tetapi penambang lokal nekat beroperasi.

"Kecelakaan tambang ini sama dengan yang sebelumnya. Lokasi masih dipasangi police line," kata Astrian Tomi.

Tambang di kaki bukit panjang ini berbeda dengan tambang timah umumnya.

Aktivitas tambang dilakukan dengan cara membuat lubang seperti terowongan bawah tanah. Ke dalam lubang berkisar antara 15 meter sampai 20 meter.

Para penambang bukan menambang timah langsung. Penambang hanya mengambil batu yang mengandung logam atau mineral timah.

Batu ini setelah ditemukan kemudian dibawa keluar lubang tambang. Lalu batu mengandung timah dipecahkan dan diambil mineral timahnya.

Astrian Tomi mengatakan untuk melakukan penambangan batu timah, para penambang hanya mengandalkan peralatan berupa linggis, cangkul, pahat, palu dan sekop.

"Batu yang mengandung timah dibawa keluar. Setelah itu batunya dipecahkan dan diambil mineral timahnya dan dijual ke penampung (kolektor timah)," kata Astrian Tomi.

(bangkapos.com / Hendra)

Penulis: Hendra
Editor: Ardhina Trisila Sakti
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved