Dinkes Babel dan BBKPM Bandung Audiensi dengan Bupati Bangka Tengah

Pihak BBKPM Bandung bersama Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menyambangi Kantor Bupati Bangka Tengah

Dinkes Babel dan BBKPM Bandung Audiensi dengan Bupati Bangka Tengah
Ist/Diskominfo Babel
Kunjungan Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat (BBKPM) Bandung bersama Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung saat menyambangi Kantor Bupati Bangka Tengah 

BANGKAPOS.COM--Pihak Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat (BBKPM) Bandung bersama Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menyambangi Kantor Bupati Bangka Tengah untuk melakukan audiensi mengenai program kegiatan kesehatan paru terintegrasi. Diterima langsung oleh Bupati Bangka Tengah, Ibnu Saleh, beliau didampingi oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka Tengah, Bahrun R. Siregar, serta para jajarannya. (02/08/2019)

Mengawali audiensi, Ibnu Saleh sempat menyampaikan  keprihatinannya atas pengalaman kerabatnya yang menderita penyakit kanker paru. "Mengingat pengalaman itu, saya memahami pentingnya upaya pencegahan dan penanganan terkait penyakit paru," jelasnya.

"Masyarakat kita masih malu-malu dan tidak mau mengobati penyakitnya (red. tuberkulosis/TBC) sehingga penyakit yang dideritanya tidak sembuh-sembuh. Padahal, persediaan obat di puskemas banyak dan jika mereka berobat secara sungguh-sungguh, penyakit ini bisa disembuhkan secara tuntas,"  jelas Ibnu Saleh.

"Oleh karena itu, Kabupaten Bangka Tengah melalui Dinas Kesehatan akan mendukung program BBKPM Bandung. Saat ini kami sedang menyusun anggaran tahun 2020 dan kami dapat memasukkan kegiatan yang sesuai dengan menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Bangka Tengah," ungkapnya.  

Apalagi, lanjutnya, Program Pengendalian TBC merupakan salah satu program nasional yang harus dijalankan. 

Kepala Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat Bandung, Maya Marinda Montain sependapat dengan Ibnu Saleh bahwa stigma masyarakat terhadap penyakit tuberkulosis masih kurang baik sehingga dikhawatirkan penderita yang tidak selesai pengobatannya dapat menjadi resisten obat atau kebal obat.

"Masyarakat yang seperti ini yang harus kita waspadai. Penderita tuberkulosis resisten obat menjadi sulit untuk diobati. Jika penderita biasa diobati selama enam bulan, penderita tuberkulosis resisten obat minimal satu setengah tahun sampai dengan dua tahun dan biaya pengobatannya pun sangat besar," jelas Maya.

Di BBKPM Bandung sendiri, lanjut Maya, selain pengobatan, kami juga mengedepankan penyuluhan. "Penyuluhan merupakan bagian yang paling penting sehingga pasien tetap mau meneruskan pengobatannya," jelasnya.

"BBKPM Bandung juga memiliki Desa Siaga TB dan ini bisa dijadikan contoh oleh desa di daerah lain. Pedomannya akan segera disusun sehingga dapat diterapkan," kata Maya.

Dalam kesempatan ini, Kepala Seksi Promosi Kesehatan,  Rian Surahman memaparkan program yang tersedia di BBKPM Bandung. "Salah satunya adalah program magang praktek kerja lapangan," jelasnya.

"Program ini merupakan upaya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta didik institusi pendidikan kesehatan ataupun tenaga kesehatan dalam bidang kesehatan paru dan atau di luar kesehatan paru yang menyokong pelayanan," ungkapnya. 

Secara umum, lanjut Rian, tugas pokok dan fungsi BBKPM Bandung diselenggarakan dalam bentuk program Upaya Kesehatan Masyarakat dan Upaya Kesehatan Perorangan yang secara terintegrasi dilaksanakan, baik di dalam maupun di luar gedung. 

"Kami berharap dapat bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah melalui Dinas Kesehatannya sehingga rencana kegiatan program kesehatan paru terintegrasi dapat segera terlaksana," pungkas Rian. (Bangkapos.com/Adinda Chandralela)

Editor: nurhayati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved