Berita Sungailiat

Mudahkan Pelayanan ke Masyarakat, Dinkes Bangka Sosialisasi Aplikasi Lewat Koran dan Medsos

Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka telah banyak membuat aplikasi, tujuannya untuk melayani dan mendekatkan pelayanan kesehatan ke masyarakat.

Mudahkan Pelayanan ke Masyarakat, Dinkes Bangka Sosialisasi Aplikasi Lewat Koran dan Medsos
Bangkapos.com/Riki Pratama
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka, dr Then Suyanti 

BANGKAPOS.COM-- Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka telah banyak membuat aplikasi, tujuannya untuk melayani dan mendekatkan pelayanan kesehatan ke masyarakat.

Terdapat enam aplikasi yang diciptakan Dinkes Kabupaten Bangka seperti, Aplikasi Donor darah (Si Dora), Sistem Informasi Ibu Hamil Resiko Tinggi (Si Resti Cikar), Catat Informasikan Kunjungi untuk Atasi Resiko, (SMS Bunda), SMS Edukasi untuk Ibu Hamil, (SI Edu) dan Bangka Sistem Informasi E-Posyandu (PSC 119).

Selain itu,  terbaru Aplikasi Sistem, Modern, Akuntabel, Responsif, Terpadu -Perizinan Pangan Industri Rumah Tangga (SMART In- PIRT).

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka dr Then Suyanti, menjelaskan, untuk Smart In Pirt sudah banyak yang ikut, sudah 106, dikeluarkan Perizinan Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) per tanggal sekarang dari sejak launching 20 Mei 2019.

"Pelatihan keamanan pangan (PKP) sebanyak 79, untuk Si Dora juga dari data base awalnya cuma 153 jadi lebih 2 ribu lebih data base yang dipake untuk mencari pendonor. Jadi bila butuh darah petugas bisa menelpon ke data base itu, masyarakat tinggal minta butuh darah, nanti dicariin berdasarkan data base,"jelas dr Then kepada Bangkapos.com, Selasa (6/8/2019).

Menurutnya, sejak adanya aplikasi ini, waktu mendapat pendonor jauh lebih cepat kurang dari satu jam. Untuk aplikasi, Si Resti Cikar dipakai terus oleh seluruh bidan desa, di mana bidan berkoordisi dengan Dinkes Kabupaten Bangka, sehingga semua ibu hamil di data di cek apakah resiko tinggi atau tidak.

"Kalau resiko tinggi maka tiap bulan akan dipantau oleh bides dan kader ke rumah,
Jadi dari kabupaten sampai bidan desa memiliki data yang sama dan ibu hamil dipantau secara melekat, Ini salah satu untuk menekankan angka kematian ibu. Jadi aplikasi ini sasarannya beda-beda. Kalau Smart Pirt sasarannya UMKM, pengusaha, kalau Si Resti Cikar yang menggunakan bidan desa, bikor dan dinkes," ungkap Then.

Dikatakannya, untuk aplikasi Si Dora, yang pakai bisa masyarakat, petugas PMI , petugas UTDRS yang membutuhkan darah. PSC 119 digunakan oleh masyarakat, SMS Bunda digunakan untuk ibu hamil, menyusui dan
aplikasi Si Edu digunakan oleh petugas posyandu.

"Untuk sosialisasi sudah berkali-kali dilaksanakan, pample, banner juga sudah ada. Tapi kami akan terus sosialisasi lagi. Tempo hari untuk PIRT kami sudah mengundang kades se- Kabupaten Bangka, camat untuk melakukan sosialisasi aplikasi ini dan sudah dilakukan uji coba langsung untuk pengusaha UMKM juga sudah kami undang dan langsung praktek," jelas Then.

Ia mengatakan, yang tidak tahu kemungkinan warga kurang membaca koran dan bermain media sosial karena lewat itu dinkes mensosialisasikanya.

"Warga yang belum tahu kemungkinan jarang baca koran, media sosial atau merasa belum perlu, Kalau perlu pasti tahu. Tapi kami akan coba terus melakukan sosialisasi terus menerus," kata Then.

Ia menegaskan akan berusaha terus melakukan sosialisasi salah satunya dengan melalui media seperti ini.

"Kami minta tolong peran media lah yang bisa membantu kami untuk mesosialisasi secara luas. Tidak mungkin kali Dinkes ke rumah rumah untuk melakukan sosialisasi , mau butuh berapa banyak orang kerena penduduk Bangka ada 300 ribu, bisa lewat peran serta kades, camat , kaling, jadi ada jenjangnya," harapnya. (Bangkapos.com/Riki Pratama)

Penulis: Riki Pratama
Editor: nurhayati
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved