Berita Pangkalpinang

Harga Lada Babel Turun, Stok Dunia Surplus Akibat Petani dari Empat Negara Ini Produksinya Tinggi

Harga lada saat ini hanya sekitar Rp 49.000 per kg sebenarnya sangat merugikan petani, karena biaya produksi lada saat ini Rp 70.000-80.000 per kg

Harga Lada Babel Turun, Stok Dunia Surplus Akibat Petani dari Empat Negara Ini Produksinya Tinggi
bangkapos.com/Edwardi
Asen, pedagang pengepul lada melayani petani yang menjual ladanya. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Asen, pedagang pengepul lada di Jalan Soekarno Hatta Pangkalpinang mengaku murahnya harga lada putih di tingkat petani yang hanya Rp 48.500- Rp 50.000 per kg disebabkan stok lada dunia sedang surplus (berlebihan).

"Lada putih ini bukan hanya dari kita di Pulau Bangka saja yang mengekspornya, tetapi juga dari negara Vietnam, Kamboja, Laos, dan Birma juga termasuk negara pengekspor lada di dunia. Saat ini stok lada dunia banjir karena dipasok petani dari negara-negara ini," kata Asen, Rabu (07/08/2019) di tokonya.

Dijelaskannya para petani asal negara-negara itu dalam satu tahun mampu memproduksi sebanyak 250.000 ton lada, sedangkan petani lada disini dalam satu tahun hanya bisa memproduksi 10.000 ton lada.

"Bagaimana kita bisa menyaingi produksi lada mereka, keempat negara itu kompak bersatu mengumpulkan lada lewat negara Vietnam, sehingga produksi lada dunia surplus sehingga menyebabkan harga lada dunia turun.

"Kalau nanti ada bencana di negara-negara itu mungkin baru bisa harga lada Bangka ini naik kembali ke angka di atas Rp 100.000 an. Memang ada ramalan katanya tahun 2020 nanti harga lada Bangka ini mulai merangkak naik kembali, namun kita juga tidak tau lah kebenarannya," kata Asen yang mengaku sudah 40 tahunan menjadi pedagang pengepul lada.

Asen mengakui dengan harga lada saat ini hanya sekitar Rp 49.000 per kg sebenarnya sangat merugikan petani, karena biaya produksi lada saat ini sekitar Rp 70.000-80.000 per kg

"Kalau saat ini mana mau lagi orang menanam lada karena pasti rugi lah, tapi saat ini petani kita hanya bertahan dengan tanaman ladanya yang masih tersisa di kebunnya. Jadi saat ini hanya memanen sisa-sisa tanaman lada yang masih ada. Banyak orang kita ini sudah terlanjur menanam sahang (lada) saat harga lada mencapai Rp 200.000 per kg yang lalu, tapi saat ini sudah terlanjur menanam dan bertahan dengan kondisi yang ada," imbuh Asen.

(bangkapos.com/Edwardi)

Penulis: edwardi
Editor: Ardhina Trisila Sakti
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved