Berita Sungailiat

Tak Miliki Kontrol Diri, Ini Kata Psikolog RSJ Terkait Penabrak yang Seret Pengendara Motor

Narkoba merupakan zat adiktif yang dampaknya menyebabkan seseorang mengalami penurunan ataupun perubahan kesadaran.

Tak Miliki Kontrol Diri, Ini Kata Psikolog RSJ Terkait Penabrak yang Seret Pengendara Motor
Bangkapos.com
Ilustrasi Pemusnahan barang bukti narkoba oleh BNN Provinsi Bangka Belitung, Jumat (21/6/2019). 

BANGKAPOS.COM-- Peristiwa  kecelakaan lalu lintas yang terjadi di Kota Pangkalpinang baru-baru ini mengegerkan masyarakat karena pengendara mobil Avanza menyeret pengendara motor hingga jarak 800 meter.

Saat itu kondisi pengemudi mobil Avanza diduga dalam pengaruh narkoba sehingga ketika menabrak pengendara langsung tancap gas tidak menyadari ada korban yang terseret di bawah mobilnya

Menanggapi dugaan pengemudi yang dalam pengaruh narkotika, Psikolog Klinis Rumah Sakit Jiwa Sungailiat, Sefrita Danur, menjelaskan, bahwa narkoba merupakan zat adiktif yang  dampaknya menyebabkan seseorang mengalami penurunan ataupun perubahan kesadaran.

Ketika seseorang berada dibawah pengaruh zat adiktif tersebut akan mempengaruhi konsentrasi dan fokusnya dalam melakukan aktivitas tertentu seperti saat berkendara.

"Saat berkendara seseorang perlu memperhatikan kondisi di depan dan di sekitarnya, sehingga untuk dapat berkendara dengan baik maka skill, refleks, kehati-hatian, penglihatan yang awas dan emosi yang stabil harus dimiliki," jelas Sefrita kepada wartawan, Jumat (9/8/2019).

Menurutnya, tersebut tentu sulit dikuasai pengendara yang berada dibawah pengaruh narkoba, karena ia kurang atau tidak memiliki kontrol yang baik terhadap diriya, yang dapat menjadi penyebab kecelakaan lalu lintas yang membahayakan orang lain maupun dirinya sendiri.

"Dengan keterampilan berkendara dan kesadaran yang baik, biasanya seorang pengendara akan berupaya untuk menjaga keselamatan dirinya dan orang lain agar tidak terjadi kecelakaan," ungkap Sefrita.

Hanya saja terkadang, ada saja situasi yang tidak dapat dihindari yang menyebabkan seseorang mengalami kecelakaan. Tak jarang pengendara dijalanan yang menabrak orang lain kemudian lari dari tempat kejadian. Hal ini dapat dipicu oleh kondisi stres yang dialami saat terjadinya kecelakaan.

"Stres adalah proses yang membuat seseorang menilai suatu kondisi dapat mengancam atau membahayakan dirinya, pada kecelakaan bisa saja takut di keroyok masa ataupun keharusan bertanggung secara hukum sebagai sumber stresnya," katanya.

Sefrita mengatakan, dalam kondisi stres biasanya akan memunculkan tiga reaksi pada seseorang, yakni fight (menghadapi), flight (lari) dan freeze (terpaku).

"Orang-orang yang melakukan tabrak lari terlihat dalam kondisi ini mereka menghapi stres dengan cara flight (lari) yang menyebabkan ia tidak bertanggungjawab terhadap hal yang dilakukannya," tegasnya. (Bangkapos.com/Riki Pratama)

Penulis: Riki Pratama
Editor: nurhayati
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved