Warga di Desa Ini Heboh, Ribuan Ikan di Aliran Sungai Bangka Mati Misterius, Ada yang Curiga Hal Ini
Beberapa waktu lalu, warga di sekitar Sungai Jeruk heboh karena ribuan ikan mendadak mati.
Penulis: Alza Munzi | Editor: Alza Munzi
BANGKAPOS.COM, BANGKA - Sejak dulu, Sungai Jeruk di Kabupaten Bangka sebagai tempat berkembangbiak ikan air tawar.
Lokasi ini termasuk masih alami karena ikan lokal khas Bangka, bisa diperoleh pemancing.
Seiring perkembangan waktu, Sungai Jeruk mengalami penurunan kualitas.
Selain karena maraknya perkebunan sawit, juga ulah oknum tak bertanggung jawab menangkap ikan di sana.
Beberapa waktu lalu, warga di sekitar Sungai Jeruk heboh karena ribuan ikan mendadak mati.
Tidak diketahui penyebab kematian ikan yang dengan jumlah sangat banyak itu.
Warga heboh
Kejadian luar biasa itu membuat warga heboh.
Lokasinya di aliran Sungai Jeruk, Desa Zed, Kecamatan Mendobarat, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Tampak ikan yang mati mengapung di tengah sungai, serta kodok yang juga terlihat mati berada di pingiran sungai.
Sekretaris Desa Zed, Budi Kurniawan mengaku belum mengetahui penyebabnya.
"Ada masyarakat yang ke sungai mereka itu memancing atau menangguk ikan, melihat banyak ikan yang mati, tidak tahu apa penyebabnya, apakah di racun atau tercemar limbah kita tidak tahu," ungkap Budi kepada wartawan, Kamis (8/8/2019).
Warga diminta untuk berhati-hati mengkonsumsi ikan dari sungai, karena takut berdampak kepada kesehatan.
"Sebelumnya ada, tetapi tidak separah seperti ini, tetapi sebelumnya tidak tahu juga apa penyebabnya, tetapi ini parah karena banyak ikan mati," tuturnya.
Pemancing kecewa
Abong (48) dan kawan-kawan kecewa.
Ia hanya bisa 'menelan pil pahit'.
Niat mereka memancing ikan di seputaran aliran anak sungai perbatasan Desa Nibung dan Desa Labu Kecamatan Puding Besar (Pubes) Bangka, pupus seketika.
Mereka pun akhirnya memilih pulang ke rumah di Sungailiat.
Sementara itu jumlah ikan yang mati tak sedikit.
Dipastikan sebagian besar populasi penghuni seisi sungai, musnah, termasuk udang.
Hanya beberapa di antaranya yang bertahan hidup. "Akhirnya kami mancing hanya dapat ikan ukuran kecil, ikan tempuring ukuran kelingking di Sungai Tanah Bawah," keluhnya.
Reaksi camat
Camat Puding Besar, Ismir R tak menyangkal ketika dikonfirmasi terkait kabar matinya ikan dan udang di beberapa sungai di wilayah kerjanya.
Kabar tak sedap itu kata Ismir mulai terdengar sejak beberapa hari lalu, saat warga menemukan banyak ikan mati mengapung di beberapa aliran anak sungai di kecamatan ini.
"Mulai kejadian sekitar jam tujuh pagi, Hari Sabtu lalu. Awalnya masyarakat melihat banyak ikan-ikan mabuk di daerah Sungai Beladung (Anak Sungai Jeruk), hingga perbatasan Desa Labu (Pubes), Desa Kemuja (Mendobarat) dan Desa Zed (Mendobarat)," kata Ismir.
Tak hanya di permukaan air sungai, namun ikan mati berserakan hingga ke daratan tepi sungai.
Kondisi itu berimbas pada warga lokal, karena Ikan merupakan sumber protein keluarga.
"Imbas yang terkena, Desa Zed, Puding, Labu, Nibung dan desa-desa di seputaran Sungai Jeruk," katanya.
Penyebab misterius
Saat ditanya apa penyebab kematian ikan dan udang di beberapa aliran anak sungai ini?
Ismir tak dapat memberikan jawaban pasti. Apalagi tak ada bukti otentik yang bisa memastikan penyebabnya.
Penyebab kematian populasi hewan air itu akan diketahui jika sudah dilakukan penyelidikan uji kadar air oleh pihak berwenang.
"Belum diketahui (penyebab kematian ikan dan udang). Tapi beredar desas-desus di masyarakat menyebutkan bahwa sungai di racun (oleh orang tak dikenal, OTD). Cuma, jenis (racun) dan siapa pelakunya belum diketahui. Yang pasti, ketika musim kemarau, air sungai pasti akan surut dan pH (kadar keasaman) air pasti naik (bisa juga menyebabkan ikan mati)," katanya.
DLH ambil sampel air
Kepala Bidang Pengendalian Dampak Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup Bangka, Insyira Subagia mengatakan, pihaknya telah mengambil sampel air sungai sebanyak satu jeriken ukuran lima liter.
Pengambilan sampel tersebut dilakukan karena adanya laporan terkait pencemaran Aliran Sungai Payak Benua ke Desa Labu yang menemukan banyak ikan mati.
"Ada laporan dari pihak kecamatan kepada kepala dinas kami, kami dari Lingkungan Hidup langsung menindaklanjuti dengan pergi ke lokasi yang terkena dampak pencemaran tersebut," ungkap Insyira.
Tetapi dalam hal ini, mereka juga belum bisa menyimpulkan apa penyebab tercemarnya air sungai, selain itu menurut Insyira, tidak semua aliran tercemar ada beberapa titik aliran sungai saja yang terdapat banyak ikan mati.
"Dalam hal ini setelah kami cek memang ada, kami melihat cukup banyak ikan mati, kami lihat hanya setumpuk titik itu banyak mati, kami tidak tahu penyebabnya, karena tidak bisa langsung menuduh siapa, apa itu masyarakat atau perusahaan," ungkapnya.
Namun ia, menambahkan pihaknya telah mengirimkan sampel tersebut Laboratorium Lingkungan Hidup Provinsi Bangka Belitung, agar dalam waktu 15 hari kedepan muncul hasilnya dan bisa disimpulkan penyebabnya.
"Kami akan menyampaikan hasilnya setelah tes dari laboratorium keluar, sesuaikan dengan PP 82 tentang mutu sungai kelas dua, jadi setelah hasil lab keluar baru tahu penyebab pencemaran karena aliran limbah dari perusahaan atau dari masyarakat mencari ikan dengan menggunakan racun disana, sehingga ada zat kimia, nanti kita tunggu hasilnya," tegasnya.
Ia menambahkan bila sudah keluar hasilnya nanti, barulah mereka akan melakukan evaluasi serta upaya seperti bila itu disebabkan masyarakat makan akan diserahkan ke pihak kecamatan sementara bila akibat limbah perusahaan maka dinas sendiri yang akan melakukan teguran.
"Bila hasilnya selesai dan kita tahu penyebabnya, bila dari masyarakat kami serahkan ke pihak kecamatan untuk menindaklanjuti seperti apa, namun bila itu dari limbah perusahaan kita akan tegur dan menindaklanjuti pencemaran tersebut," ungkapnya.
(bangkapos.com/riki pratama/fery laskary)