Info Haji 2019

Selama di Tanah Suci Almarhum H Jumli Mendorong Kursi Roda Istri Tersayang

Almarhum ayahnya berpesan tiru lah seperti hidup orangtuanya, kemana suami berjalan istri ikut, kemana istri berjalan suami ikut.

Selama di Tanah Suci Almarhum H Jumli Mendorong Kursi Roda Istri Tersayang
(Dokumentasi ketua Kloter 8/PLM)
Almarhum Mohammad Jumli Bin Entong (71) semasa hidupnya, saat mendorong istri tersayangnya ketika berada di kota Madina Al Munawwaroh.

BANGKAPOS.COM - Sebelum berangkat berhaji Almarhum Mohammad Jumli Bin Entong (71) jamaah haji asal Manggar, Belitung Timur, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, berpesan kepada anak-anaknya untuk mengiklaskan dimanapun almarhum berada.

Anak mana yang tak bersedih ketika mendengar kabar orang tuanya wafat, saat posbelitung menyambangi kediaman almarhum Jumli di Desa Mekar jaya, Kecamatan Manggar, semua anak-anaknya sedang berkumpul tampak kesedihan menghiasi wajah mereka.

Sari anak ketiga, dari lima bersaudara pasangan Almarhum Mohammad Jumli Bin Entong dan istrinya Noraida binti Ismail Mansur (70) tak kuasa menahan air matanya saat terkenang semasa hidup ayahnya.

"Tadi kami dapat kabar sekitar pukul 14.45 WIB, Abah memang punya riwayat sakit jantung, tapi beliau tidak pernah mengeluh," ujar Sari kepada posbelitung, Senin (12/8/2019).

Sari mengatakan kedua orang tuanya berangkat Haji karena amanah dari anak-anak, saat ada rejeki dari anak-anaknya diberangkatkan lah haji.

"Alhamdulilah katanya sudah selesai untuk hajinya," ucap Sari.

Dia pun menceritakan sebelum berangkat Ayahnya berpesan agar anak-anaknya jangan khawatir dimanapun orang tuanya berada.

"Karena sudah amanah beliau waktu sebelum berangkat Abah sudah beramanah, jangan sampai menyusahkan anak-anak, kalau terjadi apapun dengan umak dengan abah, jangan sampai angkut sana, angkut sini, dimanapun tempatnya tanahnye same, itu amanah beliau," kenang Sari sembari menghapus airmatanya.

Jemaah Haji Asal Manggar Belitung Timur Wafat di Tanah Suci

"Jadi mungkin Kami sebagai anak pun mengiklaskan dengan sepenuh hati, walau bagaimanapun kami adalah anaknya, mungkin keberatan kami karena rasa sayang kami ke beliau, yang kami pikirkan saat ini Umak, karena beliau tue bini (Ibu) dari kami kecil, kemana umak saya kemana abah saya, kemana abah saya kemana umak saya, jadi mereka selalu berdua, itu yang kami pikirkan" ucap Sari.

Sari juga mengatakan, almarhum ayahnya berpesan tiru lah seperti hidup orangtuanya, kemana suami berjalan istri ikut, kemana istri berjalan suami ikut.

Kepala Kantor Kemenag Beltim bersama star dan Kabag Kesra Beltim Sarjana saat menyampaikan kabar duka kepada anak-anak Almarhum Jumli di kediamannya desa Mekar Jaya, Kecamatan Gantung, Belitung Timur, Senin (12/8/2019) (dokumentasi kemenag Beltim)
"Kalau umak fisiknya sehat hanya kaki saja yang sakit, abah juga fisik sehat cuman mungkin karena jantungnya, beliau tidak mau kalau kami antar periksa ke rumah sakit, karena beliau takut kepikiran kalau tahu ada sakit," nanti kalau sakit tidak bisa makan nyaman," jadi sampai meninggal tidak pernah minum obat sembarangan," kenang Sari.

Dia pun menceritakan selama di tanah suci yang mendorong kursi roda ibunya adalah ayahnya. Terkadang keluarga pun dikirimi foto keadaan orang tua mereka di tanah suci oleh ketua kloter 8/PLM.

"Karena melihat difoto ayah yang mendorong umak, berarti abah sehat, jadi Kami terkejut mendapat kabar terakhir beliau," ujar guru di SD 10 Gantung tersebut. (Posbelitung.co/suharli)

Penulis: Suharli
Editor: khamelia
Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved