Info Kesehatan

Murid di Kalimantan Temukan Obat Kanker yang Diakui Dunia, Sang Guru Justru Khawatir

Tiga siswa SMA 2 Negeri Palangkaraya berhasil menemukan obat kanker mujarab dari pohon bajakah dan berhasil meraih medali emas

Murid di Kalimantan Temukan Obat Kanker yang Diakui Dunia, Sang Guru Justru Khawatir
(KOMPAS TV)
Ekslusif AIMAN yang ditayangkan Kompas TV, Senin (12/8/2019) malam mengenai tanaman bajakah yang diklaim menyembuhkan kanker. 

BANGKAPOS.COM - Tiga siswa SMA 2 Negeri Palangkaraya berhasil menemukan obat kanker mujarab dari pohon bajakah dan berhasil meraih medali emas pada ajang kompetisi tingkat dunia di Seoul, Korea Selatan.

Namun, di balik penemuan dan prestasi itu, terdapat kekhawatiran pihak guru pembimbing siswa, yakni akan banyak orang memburu pohon itu sehingga bisa merusak hutan di Kalimantan Tengah.

Saat awal menerima informasi bahwa ada siswa dari salah satu SMA negeri di Palangkaraya yang berhasil menjuarai dan meraih medali emas atas karya ilmiah menemukan obat kanker dari pohon bajak.

//

Kompas.com langsung mencari informasi tambahan terkait dengan siapa siswa itu dan dari mana asal sekolahnya.

Akhirnya Kompas.com berhasil menemukan titik terang ketiga nama siswa tersebut serta asal sekolah dan nama guru pembimbing.

//

Ruji Alamsyah, humas SMA Negeri 2, Palangkaraya, menyambut dengan ramah dan membantu Kompas.com bertemu Helita, guru pembimbing ketiga siswa berprestasi tersebut.

Namun, rencana wawancara Helita tidak berjalan mulus.

Sempat ada penolakan dari guru pembimbing untuk diwawancarai, apalagi membuka secara utuh asal usul serta nama jelas kayu yang disebut bajakah tersebut.

Alasannya, ia tidak ingin penemuan itu justru berdampak pada kerusakan hutan di Kalimantan Tengah.

Ia khawatir akan terjadi eksploitasi alam besar-besaran terhadap hutan di Kalimantan Tengah, terutama bagi kalangan yang memiliki tujuan untuk komersial.

“Saya tidak mau kalau ini nanti justru akan menjadi masalah, khususnya dalam hal eksploitasi hutan Kalimantan Tengah,” kata Helita saat ditemui Kompas.com di SMA Negeri 2, Palangkaraya.

Setelah Kompas.com bisa meyakinkan dan memberikan penjelasan yang cukup panjang, akhirnya guru pembimbing bersedia diwawancarai serta langsung memanggil ketiga siswa hebat tersebut, dengan syarat tidak akan membuka nama dan jenis kayu tersebut.

Sebelumnya diberitakan, tiga siswa SMA 2, Palangkaraya,Kalimantan Tengah, meraih juara dunia atas temuan obat kanker mujarab, dengan bahan baku alami berupa batang pohon tunggal atau dalam bahasa Dayak disebut dengan bajakah yang diperoleh di hutan Kalimantan Tengah, Senin (12/8/2019).

Keberhasilan ketiga siswa tersebut berawal dari informasi Yazid, salah seorang siswa yang ikut dalam tim tersebut, bahwa ada salah satu tumbuhan di hutan Kalimantan Tengah yang kerap digunakan keluarganya menyembuhkan kanker, bahkan kanker ganas stadium empat sekalipun.

Di bawah bimbingan Helita, ketiga siswa SMA Negeri 2 Palangkaraya ini memutuskan untuk memulai pembahasan awal yang lebih serius mengenai kayu bajakah.

Penelitian diawali dengan uji pendahuluan yang dilakukan ketiga siswa dan guru pembimbing di laboratorium.

Kisah Penemuan Pohon Bajakah

Dua siswi SMA Negeri 2 di Palangkaraya menjadi juara tingkat dunia dalam lomba karya ilmiah, di Korea Selatan, Kamis (25/7/2019)

Karya yang membawa juara dunia itu, yakni menemukan manfaat Tanaman 'Bajakah' yang bisa menyembuhkan secara total penyakit pembunuh nomor satu di dunia, yakni kanker.

Dikutip TribunWow.com dari program Aiman di saluran YouTubeKompas Tv, Senin (12/8/2019), dua siswi tersebut bernama Aysa Maharani dan Anggina Rafitri.

Aysa dan Anggina ini dibimbing oleh Guru Pembimbing KIR SMAN 2 Palangka Raya, yakni Helita.

Dijelaskan oleh Helita, sebenarnya penemuan tanaman penyembuh ini bukanlah petama kali.

"Sebenarnya bukan penemu, dan yang pasti ini adalah kearifan lokal Kalimantan Tengah," ujar Helita.

Helita mengatakan tanaman Bajakah telah dipakai oleh nenek moyang secara turun temurun untuk mengobati kanker.

"Sudah dilakukan turun temurun oleh nenek moyang kita," ujar Helita.

"Hanya tradisi dan dituturkan saja."

Meski begitu, tanaman itu belum pernah dibuktikan secara ilmiah.

Dan Aysa dan Anggina lah yang membuktikan secara ilmiah untuk pertama kali.

Helita pun menceritakan awal mula menemukan ide untuk membuktikan Tanaman Bajakah tersebut.

Seorang muridnya, Yazid Akbar datang kepadanya.

"Datang ke saya bilang, 'Ibu saya punya tanaman yang bisa menyembuhkan kanker'" ujar Helita.

Yazid pun menambahkan bahwa neneknya memiliki kanker dan sembuh total setelah mengonsumsi Tanaman Bajakah.

"Kanker payudara stadium empat," ungkap Yazid.

Yazid mengatakan neneknya tidak memiliki biaya untuk melakukan pengobatan secara medis, kemoterapi dan lainnya.

Neneknya pun mengonsumsi Tanaman Bajakah tersebut.

Helita yang sangat tertarik dan sedang membawa kearifan lokal dalam penelitiannya pun secara serius meneliti hal itu.

Meski ada sejumlah ucapan mengenai hal mistik yang membuat tanaman itu menyebuhkan kanker, Helita bersikukuh dan melakukan pembuktian.

"Itu bukan mistik dan secara ilmiah memang kandungannya bagus."

Dua siswi SMA Negeri 2 di Palangka Raya menjadi juara tingkat dunia dalam lomba karya ilmiah, di Korea Selatan, Kamis (25/7/2019)
Dua siswi SMA Negeri 2 di Palangka Raya menjadi juara tingkat dunia dalam lomba karya ilmiah, di Korea Selatan, Kamis (25/7/2019) (Capture Kompas Tv)

Helita mengatakan di dalam tanaman Bajakah ada kandungan yang menyembuhkan kanker yakni Fenolil, Steroid, Tannin, Alkonoid, Terpenoid, Saponin yang mengandung radikalisme bebas.

Tanaman Bajakah itu juga hanya ada di Kalimantan Tengah.

Sedangkan jika dilakukan penanaman di lokasi lain, ada kemungkinan akan memiliki kandungan yang berbeda.

Cara pemakaian Tanaman Bajakah itu juga mudah.

Batang Tanaman Bajakah dikeringkan, dicacah lalu direbus dengan air dan dikonsumsi.

Namun Helita tak bisa menyampaikan secara detil karena cemas akan ada eksploitasi alam oleh oknum tak bertanggungjawab.

Aiman pun secara ekslusif menuju ke dalam hutan lokasi Tumbuhan Bajakan tumbuh.

Lokasi itu berjarak 2 jam dari laboratorium SMA Negeri 2 diPalangkaraya.

Sedangkan nama hutan itu dirahasiakan oleh Aiman atas permintaan Helita.

Setelah berjalan jauh di hutan, Aiman pun ditunjukkan oleh Helita Tanaman Bajakah.

Aiman juga berkesempatan mencoba air yang keluar dari Tanaman Bajakah.

Ditanyai Aiman apa saja yang pernah ditorehkan SMAN 2Palangkaraya dalam lomba karya ilmiah, ternyata Korea Selatan bukanlah yang pertama.

Helita mengatakan telah 5 kali mendampingi siswanya mengikuti perlombaan di luar negeri.

"Selama ini kita bukan hanya sekali ke luar negeri, pertama ke USA, saya mendampingi 3 orang siswa (finalis), kemudian ke India bersama 2 orang siswa menang spesial awwards, kemudian ke Thailand (partisipan)," ujar Helita.

"Ada yang ke Malaysia dapat perunggu, lalu ke Korea dua-duanya berhasil, semua soal kearifan lokal Kalimantan Tengah," jelasnya.

Helita mengatakan dana yang dikumpulkan berasal dari individu orangtua juga.

"Orangtua peranak menitipkan ke saya," ujar Helita.

Patungan uang itu sekitar Rp 30 juta sekitar per anak.

Anggina pun bertutur telah mempersiapkan masa depannya yaitu ingin melangkah berkuliah di Universitas Indonesia mengambil Jurusan Kedokteran.

Sedangkan Aysa juga ingin berfokus di Kedokteran di UNLAM.

"Dan ingin membantu orang banyak," ujar Anggina.

(Kompas.com/Kurnia Tarigan/TribunWow.com/Roifah Dzatu Azmah)

Artikel ini telah tayang di TRIBUNWOW.COM dengan Judul Murid di Kalimantan Temukan Obat Kanker yang Diakui Dunia, sang Guru Justru Khawatir karena Hal Ini

//
 
Editor: khamelia
Sumber: TribunWow.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved