Hanya Satu Rumah Sakit di Pangkalpinang yang Miliki Izin Pengelolaan Limbah Medis

Kasi limbah B3 Dinas Lingkungan Hidup Kota Pangkalpinang, Faisal, menyatakan, pihaknya selalu melakukan pengawasan terhadap

Hanya Satu Rumah Sakit di Pangkalpinang yang Miliki Izin Pengelolaan Limbah Medis
Bangkapos/irakurniati
Kepala seksi limbah B3 Dinas Lingkungan Hidup Kota Pangkalpinang, Faisal 

Hanya Satu Rumah Sakit di Pangkalpinang yang Miliki Izin Pengelolaan Limbah Medis

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Kasi limbah B3 Dinas Lingkungan Hidup Kota Pangkalpinang, Faisal, menyatakan, pihaknya selalu melakukan pengawasan terhadap pengelolaan limbah medis pada fasilitas kesehatan (Faskes).

Faskes yang menjadi pengawasan pihaknya yakni memiliki surat izin B3 (bahan berbahaya dan beracun). Sayangnya, saat ini hanya ada satu rumah sakit di Pangkalpinang yang memiliki surat izin tersebut.

Faisal menyatakan, rumah sakit tersebut yakni Rumah Sakit Bakti Timah. Sedangkan pada rumah sakit lain, termasuk RSUD bahkan puskesmas belum memiliki izin B3.

"Baru RSBT yang sudah memiliki izin B3, itu pun sekarang tahap revisi karena mereka pindah gedung. Sedangkan RSUD mereka masih dalam proses mengurus perizinan nya," kata Faisal kepada bangkapos.com, Kamis (15/8/2019).

Dia menambah, pengawasan limbah medis merujuk pada PP nomor 101 tahun 2014.

Dalam peraturan tersebut menuliskan, pengawasan cenderung diberlakukan pada fasilitas kesehatan yang telah memiliki izin B3.

Namun secara umum rumah sakit maupun fasilitas kesehatan tetap dilakukan pengawasan tetapi tidak merinci pada limbah medis.

"Pengawasan per semester yakni 6 bulan. Kami tetap lakukan sosialisasi , mereka harusnya ajukan izin apa saja. Biasanya pengawasan rumah sakit ada sosialisasi izin tersebut," sambungnya.

Lebih lanjut, menurutnya limbah medis harus dikelola dengan baik dan tetap berjalan agar tidak mengganggu lingkungan.

Proses pengelolaan limbah biasanya meliputi penyimpanan, pengangkutan, pengumpulan, pemanfaatan, pengolahan bahkan pemusnahan. Pengolah limbah medis yakni insinerator.

"Kami sifatnya melakukan pengawasan. Tergantung rumah sakit itu, izin nya sampai mana. Misalnya hanya penyimpanan berarti cukup itu saja. Pemusnahan maupun pengolahan diserahkan ke pihak ketiga," imbuhnya.

(bangkapos.com/irakurniati)

Penulis: Ira Kurniati
Editor: Evan
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved