Kepercayaan Warga Tionghoa Tentang Sembahyang Rebut : Arwah Gentayangan Kembali ke Akhirat

Setiap tahunnya warga keturunan Tionghoa di Bangka Belitung melaksanakan tradisi sembahyang rebut pada tanggal 15 bulan 7 penanggalan Imlek

Kepercayaan Warga Tionghoa Tentang Sembahyang Rebut : Arwah Gentayangan Kembali ke Akhirat
bangkapos.com/deddy marjaya
Patung Thai Se Ja di Klenteng Hap Miau di Desa Merawang Kabupaten Bangka yang akan dibakar nanti malam pada puncak sembahyang rebut Kamis (15/8/2019) 

Kepercayaan Warga Tionghoa Tentang Sembahyang Rebut : Arwah Gentayangan Kembali ke Akhirat

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Setiap tahunnya warga keturunan Tionghoa di Bangka Belitung melaksanakan tradisi sembahyang rebut pada tanggal 15 bulan 7 penanggalan Imlek. Tahun 2019 ini bertepatan Kamis (15/8/2019) malam.

Sembahyang Rebut diyakini oleh warga Tionghoa adalah saat pintu akhirat terbuka dan saatnya arwah gentayangan kembali ke akhirat tidak lagi mengganggu masyarakat. 

Arwah arwah tersebut bergentayangan dalam keadaan terlantar, sehingga mereka sangat membutuhkan persembahan makanan. Arwah yang bergentayangan ini karena tidak memiliki keturunan, meninggal tidak wajar, dan meninggal dalam kurun waktu lama.

Thai Tse Ja adalah Raja Akhirat dianggap sebagai pengendali arwah arwah. Thai Se Ja saat sembahyang rebut disimbolkan dengan patung berukuran raksasa dengan posisi duduk. Dimana tangan kanan memegang pensil dan tangan kiri memegang buku. Pengertiannya Tai Se Ja akan mencatat arwah arwah yang kembali ke akhirat sebelum pintu ditutup.

Sementara didepannya berbagai persembahan seperti umbi-umbian, kacang, sayuran dan buah dialtar sebagai hidangan bagi arwah sebelum kembali ke akhirat.

Selain itu juga disiapkan sejumlah simbol materi seperti uang, rumah, Mobil lainnya.

"Kita berdoa kepada arwah dengan harapan mereka juga mendoakan kita agar dikehidupan mendapatkan kemakmuran, kesehatan dan kesuksesan," ujar Alim warga Merawang ditemui di Klenteng Hal Miau Desa Merawang

Ritual Sembahyang Rebut dimulai saat senjat ketika matahari terbenam. Warga biasanya lebih dulu berdoa didalam klenteng.

Sembari menunggu tengah malam biasanya dihibur dengan berbagai acara seperti musik dan lainnya.

Saat tengah malam didahului dengan dibuka oleh Taipak (dukun) kemudian warga diperbolehkan saling berebut sesaji di altar.

Kemudian setelah semua sesaji habis diperebutkan barulah dilakukan pembakaran patung Thai Se Ja dan simbol materi lainnya. Ini sebagai pertanda bahwa pintu akhirat akan ditutup dan para arwah gentayangan telat kembali.

"Semuanya ini simbol maknanya bahwa kita yang masih hidup harus dapat menjaga keseimbangan karena selain didunia ada kehidupan di akhirat," kata Sanjaya warga Baturusa ditemui di Klenteng Amal Abadi.

(bangkapos.com/deddy marjaya)

Penulis: deddy_marjaya
Editor: Evan
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved