Ritual Chit Ngiat Pan dan Potret Kerukunan Umat Beragama di Bangka Barat

Sembahyang Rebut atau sering disebut Chit Ngiat Pan merupakan salah satu warisan budaya Tionghoa

Ritual Chit Ngiat Pan dan Potret Kerukunan Umat Beragama di Bangka Barat
Ist/Humas Pemkab Bangka Barat
Bupati Markus SH saat meninjau persiapan sembayang rebut di Klenteng Kong Fuk Miau, Kamis (15/8). 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Sembahyang Rebut atau sering disebut Chit Ngiat Pan merupakan salah satu warisan budaya Tionghoa yang jatuh pada bulan 7 tanggal 15 penanggalan kalender cina. Sebagai tradisi religi, sembahyang rebut pun masih dilakukan hingga kini.

Menariknya, meski sembayang rebut adalah tradisi Tionghoa, namun ritual tahunan tersebut selalu menjadi ajang silaturahmi antar warga tanpa melihat latar belakang perbedaan.

"Ini tradisi tahunan orang Tionghoa, tapi ini perayaan keberagaman karena semua warga kita bisa hadir disini, sebuah pesan harmoni kerukunan umat beragama di Bangka Barat," kata Bupati Markus SH saat meninjau persiapan sembayang rebut di Klenteng Kong Fuk Miau, Kamis (15/8).

Ketua Klenteng Kong Fuk Miau sekaligus ketua panitia sembayang rebut, Lim Sen Khian, menjelaskan perayaan Chit Ngiat Pan merupakan perayaan dimana pintu akherat terbuka lebar dan arwah-arwah yang berada di dalamnya keluar dan bergentayangan.

"Arwah-arwah itu turun ke dunia ada yang pulang ke rumah keluarganya ada pula yang turun dengan keadaan terlantar dan tidak terawat, sehingga manusia akan menyiapkan ritual khusus untuk diberikan kepada arwah yang terlantar tersebut. Selain itu juga disediakan rumah-rumahan yang terbuat dari kertas, uang dari kertas dan baju-baju dari kertas pula. Barang-barang tersebut di buat memang diperuntukkan bagi para arwah," jelasnya di Muntok.

Dalam sembayang rebut ini, selain dikunjungi warga Tionghoa yang memang ingin mengikuti ritual sembayang, juga datang warga lainnya yang memang sekedar ingin menyaksikan ritualnya.

Lebih jauh Lim Sen Khian menjelaskan, sembayang rebut ini juga menjadi kesempatan berbagi dengan sesama.

"Memang di klenteng lain ada acara rebutan tapi disini, semuanya kita kumpulkan untuk kemudian dibagi untuk semua yang datang ke klenteng Kong Fuk Miau. Tapi kalau yang tidak bisa datang, kita paketin lalu diantar untuk warga kurang mampu.

Editor: Ardhina Trisila Sakti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved