Momen Kebahagian dan Kebanggaan di Hari Kemerdekaan, Saya Benar-Benar Merasakan Kemerdekaan

Peringatan Hari Kemerdekaan RI Ke-74 menjadi momen tak terlupakan dan spesial bagi Baiq Nuril yang selama ini berjuang

Momen Kebahagian dan Kebanggaan di Hari Kemerdekaan, Saya Benar-Benar Merasakan Kemerdekaan
KOMPAS.com/ Karnia Septia
Baiq Nuril Maknun, terdakwa kasus UU ITE saat berada di PN Mataram, Rabu (10/5/2017) 

BANGKAPOS.COM-- Peringatan Hari Kemerdekaan RI Ke-74 menjadi momen tak terlupakan dan spesial bagi  Baiq Nuril yang selama ini berjuang untuk mendapatkan keadilan.

Makna peringatan kemerdekaan ini bagi perempuan yang kebahagiaan perempuan yang baru saja mendapat amnesti dari Presiden Joko Widodo saat berarti. 

Kebahagiaan yang dirasakannya kian lengkap karena Baiq Raina Asli Hati (16), anak sulungnya, menjadi salah satu anggota Pasukan Pengibar Bendera tingkat Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Ketika barisan Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) memasuki Lapangan Bumi Gora Kantor Gubernur NTB sekitar pukul 10.00 Wita, Baiq Nuril yang duduk di antara puluhan orangtua lain menegakkan badan. Suaminya, Lalu Isnaini, dan anak bungsunya, Lalu Muhammad Raffi Saputra, melakukan hal serupa.

Ketika melihat sang anak yang berada di lajur kanan pada urutan kedua paling belakang, Nuril lantas mengambil ponsel pintar. Ia kemudian merekam setiap pergerakan sang anak bersama anggota paskibra lainnya. Hanya beberapa saat, mata Nuril berkaca-kaca. Tangisnya pecah.

Rasa haru itu ternyata tidak hanya ketika proses pengibaran bendera berlangsung. Ketika berkesempatan bertemu Raina seusai upacara, Nuril kembali menangis.

KOMPAS/ISMAIL ZAKARIA

Baiq Nuril didampingi suaminya, Lalu Isnaini, membagikan nasi puyung dalam pertemuan kantor Biro Konsultasi dan Bantuan Hukum Laboratorium Hukum Fakultas Hukum Universitas Mataram, Senin (5/8/2019). Pertemuan itu sekaligus syukuran sederhana atas amnesti yang diterima Baiq Nuril.

Dengan penuh kasih sayang dan rasa bangga, Nuril memeluk sang anak. Raina yang masih mengenakan pakaian lengkap Paskibra membalas pelukan ibunya. Pertemuan yang mengharukan itu menjadi perhatian orang-orang di dekat mereka.

”Dari dia masuk pintu gerbang, air mata ini tidak berhenti. Itu karena rasa bangga… bangga yang luar biasa,” kata Nuril sambil terisak.

Situasi emosional yang dirasakan Nuril beralasan. Kesempatan melihat putrinya menjadi salah satu anggota Paskibra adalah ”kemerdekaan” lain yang akhirnya bisa didapatkan mantan tenaga hononer SMAN 7 Mataram itu.

Sebelumnya, selama hampir lima tahun, Nuril harus berjuang mencari keadilan atas kasus pelanggaran Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) yang menjeratnya.

Kasus itu berawal pada 2014 ketika Nuril dilaporkan M, kepala sekolah di tempatnya bekerja. Tuduhan bagi Nuril adalah pencemaran nama baik (Kompas, 6/7). Nuril merekam pembicaraan telepon dengan M karena merasa dilecehkan. Sebab, M menceritakan hubungan asmaranya dengan seorang wanita lain yang mengarah ke pornografi. Rekaman itu belakangan disebarluaskan rekan Nuril dan berujung laporan M ke Polres Mataram pada awal 2017.

Halaman
123
Editor: nurhayati
Sumber: Kompas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved