HORIZON

Menggugat Kemerdekaan

Pekik kemenangan kembali berkumandang setiap memsuki Agustus, atau tepatnya setiap 17 Agustus. Rakyat Indonesia kembali dilanda euforia kemerdekaan.

Menggugat Kemerdekaan
bangkapos.com/Romadoni
LOMBA makan donat yang dilumuri cokelat di acara Pesta Rakyat di Komplek Kantor PT Timah Tbk, Pangkalpinang, Minggu (18/8/2019). 

MERDEKA!!! Pekik kemenangan kembali berkumandang setiap memsuki Agustus, atau tepatnya setiap tanggal 17 Agustus. Seluruh rakyat Indonesia kembali dilanda euforia kemerdekaan.

Memperingati hari kemerdekaan yang tahun ini telah memasuki usia yang ke 74, setiap kampung bersolek. Bendera merah putih dan penjor-penjor didirikan agar suasana semakin meriah. Di tempat lain, warga juga sengaja memperbaharui cat pagarnya untuk menyongsong pesta kemenangan tersebut.

Suasana semakin meriah dengan aneka perlombaan yang digelar di setiap kampung. Anak-anak ikut berlomba makan kerupuk, lari karung, lari kelereng dan aneka perlombaan lainnya. Tak ketinggalan hadiah bejibun disiapkan untuk aneka lomba yang dihelat.

Tak jarang, perlombaan-perlombaan unik juga digelar. Antar kampung seakan berlomba berebut label paling meriah saat merayakan hari kemerdekaan.

Tahun ini, suasana tak banyak berubah. Pesta kemenangan masih tetap meriah di mana-mana. Upacara pengibaran bendera di detik-detik proklamasi juga masih saja diselenggarakan dengan khidmat nan gagah.

Tahun ini tak berbeda dengan Agustus-Agustus tahun sebelumnya. Bahkan mungkin Agustus mendatang juga masih sama dengan Agustus tahun ini. Karena Agustus adalah saatnya bangsa ini berpesta.

Semua tampak bahagia dan gembira. Bahkan orang tua juga tak segan berkotor-kotor ria mengikuti lomba makan kerupuk yang dilumuri kecap atau ikut panjat pinang yang penuh dengan oli bekas.

Di tengah euforia tersebut, tidak salah jika coba kita diskusikan istilah merdeka yang 74 tahun sudah kita nikmati. Dan yang terpatri di dalam pikiran kita, merdeka adalah keberhasilan bangsa ini mengusir penjajah.

Sejak Sekolah Dasar, kita sukses menanamkan jiwa patriot kepada bangsa ini bagaimana kejamnya penjajah. Buku-buku sejarah, film-film perjuangan juga dengan lugas menggambarkan bagaimana heroisme kita melawan penjajah asing.

Namun sayangnya, mungkin kita lupa menanamkan substansi dari kata merdeka itu sendiri. Kita memaknai kata merdeka hanya sebatas makna kamus, yaitu bebas dari penajajahan. Sementara kita lupa memerdekakan pikiran kita untuk berpikir istilah merdeka secara substantif.

Halaman
12
Penulis: ibnu Taufik juwariyanto
Editor: didit
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved