Berita Sungailiat

Kisah Tok Gaul Berkubang Lumpur Agar Bekas Tambang Jadi Persawahan

Pria bernama lengkap Rozali memiliki satu tekad yang selalu ia junjung menciptakan lahan bekas tambang menjadi hamparan hijau, persawahan.

Kisah Tok Gaul Berkubang Lumpur Agar Bekas Tambang Jadi Persawahan
bangkapos.com/Fery Laskari
Tok Gaul beserta istri didampingi lurah Sinjel Sungailiat, Ramdhan Usman, Senin (19/8/2019). 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Hujan dan panas, bukan penghalang. Tok Gaul (61), tetap bertahan hidup di tengah pematang sawah. Lahan bekas penambangan timah itu ia olah secara manual sejak lima tahun silam. Tak sedikit bulir padi yang ia hasilkan, walau nasibnya tetap saja menjadi petani biasa.

Rasa optimis tak pernah surut. Pria bernama lengkap Rozali itu terus banding tulang, berkubang lumpur di bawah terik mentari. Satu tekad yang selalu ia junjung menciptakan lahan bekas tambang menjadi hamparan hijau, persawahan.

"Karena saya optimis, tanah bekas tambang di Bangka ini bisa jadi persawahan. Buktinya lima tahun saya bertahan menanam padi, dan membuahkan hasil," kata Tok Gaul, begitu biasa ia disapa, saat ditemui Bangka Pos, Senin (19/8/2019) petang.

Kisah ayah empat anak dan beberapa cucu itu bermula ketika ia kembali ke kampung halaman, Bangka Belitung (Babel), 2008 silam. Setelah 19 tahun hidup merantau di Jawa Barat, ia mendapat berbagai ilmu dan pengalaman. "Lalu pada Tahun 2014 saya mulai membuka areal persawahan di bekas lokasi tambang di Lingkungan Akeh Kelurahan Sinarjaya Jelutung (Sinjel) Sungailiat," katanya.

Berbekal cangkul, pria berjenggot itu merintis petak sawah, berikut irigasi serba manual. Perjuangannya lima tahun silam, dimulai pada petak sawah seluas 30 meter x 40 meter.

"Waktu itu jenis padi darat (ladang), tapi saya tanam menggunakan sistim padi sawah, dan saat panen dapat tujuh karung padi," kenangnya.

Setelah mendapatkan hasil, pada musim tanam berikutnya, Tok Gaul melebarkan sayap. Ia secara bertahap memperluas areal
persawahan menjadi seperempat hektare.

"Pernah berhasil 2018 seperempat hektare dapat 18 karung padi (varietas) Inpari 32, bibit dari dinas pertanian," katanya.

Waktu terus bergulir, Tok Gaul didampingi istrinya, Yayan (59) terus bertahan walau terpaksa hidup di gubuk reok, jauh dari keramaian di tengah sawah ini. Kini areal sawah yang ia kelolah sudah mencapai tiga perempat hektar, ditanami padi berbagai jenis atau varietas, di antaranya padi hitam (beras warna ungu agak gelap) dan padi Inpari.

"Kendala kegagalan kadang disebakan serangan hama, dominan wereng, ulat, burung. Kendala lain karena cuaca, misal pancaroba sehingga pertumbuhan padi terganggu. Namun demikian, saya tak putus asa, karena saya ingin membuktikan bahwa tanah kita di Bangka bisa jadi sawah," katanya begitu optimis.

Di musim kemarau yang tak kunjung reda ini, Tok Gaul merasa resah. Sawahnya kering kerontang. Sementara sebagian padi telah ditanam, membutuhkan banyak air. Alhasil Tok Gaul terpaksa menyedot air di kolong tambang mengunakan mesin dan menghabiskan bahan bakar Rp 45.000 untuk sekali pengairan, dua hari sekali. Tentu saja biaya operasinal yang membengkak, membuatnya menjerit.

Di hadapan Lurah Sinjel Sungailiat Bangka, Ramdhan Usman yang ketika itu, Senin (19/8/2019) petang, mengunjungi areal persawahan, pria kelahiran Pangkalinang, 21 Juli 1958 ini mencurahkan isi hati, agar pemerintah segera membangun saluran irigasi. "Besar harapan kami, pemerintah atau donatur mau membangun irigasi, supaya sawah di daerah ini bisa lebih maju," harapnya.

(bangkapos.com/Fery Laskari)

Penulis: ferylaskari
Editor: Ardhina Trisila Sakti
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved