Solar Subsidi Untuk Angkutan Barang Dibatasi, Begini Reaksi RSTI Bangka Belitung

Ketua Romantika Sopir Truk Indonesia (RSTI) Kepulauan Bangka Belitung Riansyah menyatakan keberatannya mengenai pembatasan solar subsidi

Solar Subsidi Untuk Angkutan Barang Dibatasi, Begini Reaksi RSTI Bangka Belitung
dok bangka pos
Ketua RSTI Babel Riansyah 

Solar Subsidi Untuk Angkutan Barang Dibatasi, Begini Reaksi RSTI Bangka Belitung

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Ketua Romantika Sopir Truk Indonesia (RSTI) Kepulauan Bangka Belitung Riansyah menyatakan keberatannya mengenai pembatasan solar subsidi yang diberlakukan saat ini.

Pihaknya khawatir pembatasan ini berimbas bagi sekitar 320 anggota RSTI yang merupakan sopir truk bahan pokok, angkutan sawit warga non-perusahaan, dan angkutan material bahan bangunan.

Ini Riansyah sampaikan menanggapi kabar Badan Pengatur Hulu Minyak dan Gas (BPH Migas) yang mengeluarkan surat edaran ke Pertamina untuk melakukan pengaturan pengendalian pembelian jenis bahan bakar tertentu (JBT), yakni minyak Solar. 

Surat edaran yang berlaku efektif mulai 1 Agustus 2019 tersebut berisi tentang larangan pembelian solar bersubsidi bagi kendaraan pengangkutan hasil perkebunan, kehutanan dan pertambangan dengan jumlah roda lebih dari enam, angkutan barang roda 4, serta kendaraan pribadi.

Kepala BPH Migas Fanshurullah Asa, Jakarta, Rabu (21/8/2019) seperti dikutip Kompas.com menegaskan pembelian solar subsidi untuk angkutan barang roda 4 maksimum 30 liter per hari, roda 6 sebanyak 60 liter per hari, dan kendaraan pribadi 20 liter per hari.

"Kami belum dapat informasi ini. Saya pribadi baru tahu," kata Riansyah kepada Bangka Pos, Selasa (27/8/2019).

Dia mengatakan, tanpa dibatasi pun, saat ini anggota RSTI Babel sudah kesulitan mendapatkan solar subsidi. Mereka juga telah mengadukan ini kepada Gubernur Babel Erzaldi Rosman beberapa waktu lalu.

Solar subsidi saat ini susah didapatkan karena panjangnya antrean truk di stasiun-stasiun bahan bakar. "Kami susah mendapatkan itu. Antre-nya lama. Harus bersusah payah mendapatkan itu. Kenyataannya di lapangan, truk-truk parkir di SPBU numpuk, panjang, hingga malam," katanya.

Member RSTI adalah pemilik truk perseorangan. Jasa mereka hanya dibayar Rp 7 ribu per kilometer oleh pengguna jasa.

Halaman
12
Penulis: Dedi Qurniawan
Editor: Evan
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved