Bangka Barat Optimis Target 2020 Kabupaten ODF Tercapai

Salah satu fokus Pemerintah Kabupaten Bangka Barat (Pemkab Babar) saat ini adalah membebaskan warganya agar tak buang air besar sembarangan

Bangka Barat Optimis Target 2020 Kabupaten ODF Tercapai
Ist/Humas Pemkab Bangka Barat
Bupati Bangka Barat, Markus SH saat menyampaikan sambutan pada acara Launching Kampung GISA di Dusun Rumpis, Desa Berang beberapa waktu lalu. 

MUNTOK - Salah satu fokus Pemerintah Kabupaten Bangka Barat (Pemkab Babar) saat ini adalah membebaskan warganya agar tak buang air besar sembarangan.

Pemkab Bangka Barat pun pun optimistis tahun 2020 nanti bakal menjadi kabupaten Open Defecation Free (ODF) atau semua warganya sudah tak buang air besar sembarangan (BABS).

Bupati Bangka Barat Markus SH menegaskan, komitmen menuju kabupaten ODF hendaknya menjadi komitmen bersama seluruh elemen masyarakat dan pemangku kepentingan di Babar.

"Tak mungkin pemerintah berjalan sendiri. Kesehatan masyarakat harus jadi prioritas setelah pendidikan. Kita semua harus bersinergi mempertahankan predikat kabupaten sehat, salah satunya mengampanyekan agar masyarakat tidak buang air besar sembarangan. Germas harus benar-benar dihidupi. Mohon dukungan para perangkat desa, kelurahan dan kecamatan serta seluruh pemangku kepentingan dan elemen terkait," kata Markus.

Dinas kesehatan (Dinkes) Bangka Barat menyambut positif komitmen Bupati Markus menuju daerah ODF.

Sekretaris Dinkes Bangka Barat, dokter Hendra menerangkan, hingga saat ini dari 64 desa/kelurahan yang ada di Bangka Barat, sudah 13 desa dikukuhkan sebagai desa ODF.

Dokter Hendra menjelaskan, ODF atau open defecation free adalah kondisi ketika setiap individu dalam komunitas tidak buang air besar sembarangan.

Menurutnya, pembuangan tinja yang tidak memenuhi syarat atau sanitasi tidak layak sangat berpengaruh pada penyebaran penyakit berbasis lingkungan seperti diare, kolera, disentri, hepatitis A, tifus, polio dan terhambatnya pertumbuhan pada balita.

"Komitmen menuju daerah
ODF ini penting dan mendesak salah satunya karena ODF berkaitan dengan stunting, sebab BAB sembarangan bisa menularkan penyakit diare dimana ketika bayi-bayi yang kena diare bisa menyebabkan stunting," jelas Hendra di Muntok, Rabu (28/8).

Sekretaris Dinas Kesehatan Bangka Barat, dr. Hendra.
Sekretaris Dinas Kesehatan Bangka Barat, dr. Hendra. (Ist/Humas Pemkab Bangka Barat)

Karena itu, Hendra mengajak seluruh elemen masyarakat punya kepedulian terkait gaya hidup sehat ini sebagai gerakan masyarakat hidup sehat (Germas).

"ODF ini salah satu dari Germas. Supaya bisa ODF, masyarakat kita tidak boleh BAB sembarangan, selain itu prosentasi rumah tangga jamban pun harus 100%. Untuk mewujudkan jamban 100% ini, Dinkes Babar mendapat bantuan dana DAK dari pusat untuk pencetakan jamban, dan desa tinggal lanjutkan bisa dengan dana desa dan lainnya," jelas Hendra.

Selain itu, tambah Hendra, pihak Dinkes Babar juga mewacanakan kerjasama Baznas Babar untuk inovasi gerakan 1.000 jamban. "Pak Drg. Achmad syafuddin sebagai Kadinkes Babar sudah merencanakan ini, sebuah gerakan menabung yang ujungnya mewujudkan jamban sehat untuk warga," tukasnya.

Menurut Hendra, terdapat beberapa manfaat buang air besar dan kecil di jamban. Pertama, lingkungan bersih, sehat dan tidak berbau, kedua, tidak mencemari sumber air dan tanah di sekitar, ketiga tidak mengundang datangnya lalat/kecoa/serangga yang dapat menularkan penyakit seperti diare, kolera, disentri, tifus dan cacingan.

Editor: Evan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved