Advertorial

Siloam Hospital - Difteri

Dr.Roni Januardi, Sp.T.H.T.K.L dari RS. Siloam Bangka mendeskripsikan Difteri adalah infeksi serius pada lapisan tenggorok termasuk amandel dan hidung

Siloam Hospital - Difteri
ist/Dr. Roni Januardi, Sp.T.H.T.K.L dari RS. Siloam Bangka
Dr. Roni Januardi, Sp.T.H.T.K.L dari RS. Siloam Bangka 

BANGKAPOS.COM-- dr Roni Januardi, Sp.T.H.T.K.L dari RS Siloam Bangka mendeskripsikan Difteri adalah infeksi serius pada lapisan tenggorok termasuk amandel dan hidung.

Infeksi ini sangat menular namun dapat dicegah dengan vaksin difteri. Infeksi difteri pada lapisan amandel yang biasa ditemukan, bila infeksi ini tidak diobati dapat menyebabkan kerusakan organ lainnya, seperti ginjal, sistem saraf dan jantung. Bahkan infeksi ini bisa menyebabkan kematian.
Penyebab dari penyakit ini adalah bakteri yaitu Corynebacterium dip­hteriae.

Penularan difteri terjadi melalui seseorang yang terinfkesi kontak dengan orang yang sehat melalui udara. Gelas minuman orang yang terinfkesi difteri, bersin, batuk atau berada disekitar orang yang terinfeksi dan menyebabkan seorang yang sehat menjadi sakit difteri.

Menurut dr Roni, meskipun sese­orang yang sudah terinfeksi difteri belum menunjukkan gejala seperti demam, menggigil, batuk, nyeri tenggorok tapi sudah dapat menularkan ke orang sehat.

Di Indonesia kejadian pa­ling banyak menginfeksi amandel, pada hidung jarang ditemui. Sekali seorang terinfeksi, maka bakteri tersebut dapat melepaskan racun yang masuk ke dalam pembuluh darah dan dapat merusak jantung, otak dan ginjal.

Negara berkembang seperti Indonesia, dari usia 5 tahun hingga 60 tahun mempunyai risiko untuk ter­infeksi bakteri difteri.

Kejadian infeksi bakteri meningkat pada seseorang yang belum mendapat vaksin difteri, berkunjung ke daerah yang endemis difteri dan daerah yang belum lengkap status vaksinnya.
Pada tahun 2017 dilaporkan, ada 95 Kab/kota dari 20 provinsi melaporkan kasus Difteri. Sementara pada kurun waktu Oktober November 2017 ada 11 provinsi yang melaporkan terjadinya KLB Difteri di wilayah kabupaten/kota-nya, yaitu 1) Sumatera Barat, 2) Jawa Tengah, 3) Aceh, 4) Sumatera Selatan, 5) Sulawesi Selatan, 6) Kalimantan Timur, 7) Riau, 8) Banten, 9) DKI Jakarta, 10) Jawa Barat, dan 11) Jawa Timur.

Tanda dan gejala difteri
Setelah seorang terinfeksi difteri dalam waktu 2 sampai 5 hari, me­reka kadang hanya merasakan gejala seperti pilek biasa. Gejala yang paling banyak ditemui adalah tedapat selaput putih keabuan, tebal dan mudah berdarah pada amandel. Keluhan lain yang mungkin dirasakan yaitu; demam, terdapat benjolan dileher, nyeri tenggorok, batuk kering dan produksi air liur yang banyak.

Pengobatan difteri
Difteri adalah penyakit yang serius dan dapat berakibat fatal pada kese­hatan serta keselamatan seseorang. Hal pertama yang dilakukan setelah positif terinfkesi adalah dengan memberikan anti racun difteri. Selain anti racun, dokter juga akan memberikan antibiotik. Seorang yang terinfkesi akan dirawat diruangan khusus untuk mencegah penularan.

Pencegahan difteri
dr Roni Januardi, Sp.T.H.T.K.L menyarankan pencegahan difteri dapat dilakukan dengan pemberian vaksin (imunisasi) dan antibiotik. Vaksin difteri merupakan program gratis dari pemerintah Indonesia. Vaksin difteri diberikan berkala sejak usia 2 bulan. Pada usia dewasa atau diatas 12 tahun diberikan vaksin tambahan difteri (booster). Dengan melakukan vaksin difteri teratur sesuai anjuran dapat membantu terjangkit difteri.
Masyarakat juga dihimbau untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, menggunakan masker bila sedang batuk dan segera berobat ke pelayanan kesehatan terdekat jika anggota keluarganya ada yang mengalami demam disertai nyeri menelan, terutama jika didapatkan selaput putih keabuan di amandel. (*adv)

Editor: nurhayati
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved