Berita Pangkalpinang

Intergrasi Sapi-Sawit, Ada yang Berhasil, Ada Juga yang Gagal

Provinsi Bangka Belitung melaunching program integrasi sapi-sawit Kamis (5/9/2019) di kawasan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP)

Intergrasi Sapi-Sawit, Ada yang Berhasil, Ada Juga yang Gagal
bangkapos.com/Dedi Qurniawan
Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan Atien Priyanti 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Kalimantan Tengah dan Bengkulu adalah sejumlah provinsi yang dinilai berhasil menerapkan program integrasi sapi-sawit di Indonesia. Meski demikian, ada juga yang tak berhasil dan bahkan belum menerapkan program ini pada perkebunan mereka.

Demikian disampaikan Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan Atien Priyanti, Kamis (5/9/2019).

"Memang tidak semuanya berhasil, ada juga yang tidak, gagal dan sebagainya," ucap Atien ditemui Bangka Pos, Kamis (5/9/2019).

Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan telah meneliti program ini sejak 2003. Menurut Atien, keberhasilan program ini tergantung tujuan perusahaan.

Jika perusahaan ingin memperbaiki kondisi lahan melalui pupuk organik, maka program ini akan dijalankan. Beberapa perusahaan menerapkan program ini untuk mengurangi penggunaan pupuk anorganik.

Pasalnya, kondisi lahan yang lebih dari 20 tahun dipupuk anorganik membuatnya miskin unsur hara.

"Ini perlu direvitalisasi. Dimudakan lagi lahan ini. Salah satunya yang paling bagus melalui pupuk organik. Jadi pasti perusahaan welcome dengan program ini," ucapnya.

Beberapa perusahaan besar, meski tidak semuanya, bahkan sudah menjadikan ternak sapi mereka ke arah penggemukan. Tidak lagi budidaya atau sekadar merevitalisasi lahan perkebunan mereka.

Dia setuju jika kemudian perusahaan sawit perlu membuat divisi khusus peternakan sapi mereka untuk mendukung program ini.

"Artinya ini sudah jadi diversifikasi usaha mereka," kata Atien.

Provinsi Bangka Belitung melaunching program integrasi sapi-sawit Kamis (5/9/2019) di kawasan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Kepulauan Bangka Belitung, Desa Kace Timur, Bangka. Menurut Atien, Babel lebih pioner ketimbang provinsi lain dari sisi peraturan gubernur.

Di provinsi lain, program ini hanya sebatas imbauan. Sementara di Babel, diatur melalui peraturan gubernur dan akan dijadikan poin penilaian kebun perusahaan.

"Baru di sini diatur Pergub. Kami punya Permentan 105 tentang usaha budidaya sapi di perkebunan sawit, tetapi di situ tidak eksplisit dinyatakan diwajibkan, tidak ada keharusan, tetapi mengimbau agar perusahaan sawit berkontribusi," katanya.

Karena itu, ia optimistis program ini berjalan di Babel. Sambil jalan, kajian pengembangannya perlu terus dilakukan agar program ini semakin terintegrasi mulai dari bibit, pakan dari limbah sawit perawatan, pengolahan fesesnya sebagai pupuk yang akan kembali digunakan perkebunan sawit. "Jadi siklus ntegrasi antara sapi dan sawit itu harus menyatu, seperti cincin, tidak boleh terputus," ucap Atien.

(bangkapos.com / Dedy Qurniawan)

Penulis: Dedi Qurniawan
Editor: Ardhina Trisila Sakti
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved