Berita Pangkalpinang

Balai Karantina Pangkal Balam Lakukan Pemusnahan Ratusan Batang Bibit Jeruk Ilegal Asal Kalbar

Ratusan bibit jeruk asal Kalimantan Barat (Kalbar) terpaksa disita petugas Balai Karantina Wilayah Kerja Pangkal Balam baru-baru ini.

Balai Karantina Pangkal Balam Lakukan Pemusnahan Ratusan Batang Bibit Jeruk Ilegal Asal Kalbar
Bangkapos.com/Ryan A Prakasa
Petugas Karantina wilayah kerja Pelabuhan Pangkal Balam saat melakukan pemusnahan terhadap ratusan bibit pohon jeruk asal Kalbar lantaran tak memiliki kelengkapan dokumen, Kamis (12/9/2019) 

BANGKAPOS.COM-- Ratusan bibit jeruk asal Kalimantan Barat (Kalbar) terpaksa disita petugas Balai Karantina Wilayah Kerja Pangkal Balam baru-baru ini.

Kepala Balai Karantina Wilayah Kerja Pangkal Balam, Saifudin Zuhri mengatakan pihaknya terpaksa mengamankan sedikitnya tiga keranjang berisikan 208 batang bibit pohon jeruk asal Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar) lantaran tak memiliki dokumen resmi.

Ia menceritakan kronologis kejadian tersebut,  pada Kamis (18/9/2019)penahanan sejumlah bibit jeruk tersebut berawal dari petugas karantina wilayah kerja  Pelabuhan Pangkal Balam sedang melaksanakan patroli pengawasan di kawasan Pelabuhan Pangkalbalam.

"Saat itu petugas kita sempat menemukan aktivitas bongkar  Kapal KM Mandala Putri di dermaga Ketapang area Pelabuhan Pangkal Balam," katanya  saat jumpa pers, Jumat (12/9/2019) di kantornya.

Saat itu pula tanpa sengaja petugas Karantina menemukan adanya media pembawa OPTK berupa buah jeruk dan bibit jeruk yang diturunkan oleh buruh angkut di  Pelabuhan Pangkalbalam

"Nah dari hasil pemeriksaan fisik dan dokumen, ditemukan bahwa media pembawa berupa buah jeruk dilengkapi dengan sertifikat karantina sedangkan bibit jeruk tidak dilengkapi dengan dokumen karantina dan tanpa disertai label biru dari Balai Sertifikasi Benih, oleh karena itu dilakukan tindakan karantina penahanan terhadap 208 batang bibit jeruk dan pelepasan untuk media pembawa buah jeruk," jelas Saifudin.

Atas kejadian tersebut, Saifudin menegaskan jika sejumlah bibit jeruk asal Kalbar tersebut masuk ke Pulau Bangka tidak dilengkapi dokumen resmi dan akhirnya dimusnahkan.

"Jadi dalam kasus ini telah terjadi tindakan pelanggaran terhadap Undang Undang RI No 16 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan, Peraturan Pemerintah RI No. 82 Tahun 2000 tentang Karantina Hewan dan Peraturan Pemerintah RI No 14 Tahun 2002 tentang Karantina Tumbuhan terkait pemasukan daging sapi beku dan bibit jeruk," tegasnya.

Selain itu, ada hal pokok yang perlu menjadi perhatian masyarakat atau pun pihak-pihak lainnya terkait pearaturan yang mengatur soal bibit pohon apapun jenisnya harus  dilengkapi kelengkapan dokumen.

"Sebab setiap media pembawa hama dan penyakit hewan karantina, hama dan penyakit ikan karantina, atau organisme pengganggu tumbuhan karantina yang dibawa atau dikirim dari suatu area ke area lain di dalam wilayah negara Republik Indonesia wajib dilengkapi sertifikat kesehatan dari daerah asal," jelas Saifudin.

Halaman
12
Penulis: ryan augusta
Editor: nurhayati
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved