Berita Pangkalpinang

410 Hektar Sawah di Desa Rias Terancam Kekeringan

Potensi kekeringan ini berdampak pada segi ekonomi maupun sosial masyarakatnya. Dia menyebut, kerugian gagal panen ini bisa mencapai Rp 8 M

410 Hektar Sawah di Desa Rias Terancam Kekeringan
bangkapos.com/Ira Kurniati
Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kepulauan Bangka Belitung Mikron Antariksa, 

BANGKAPOS.COM, BANGKA  - 410 hektar sawah di Desa Rias, Kabupaten Bangka Selatan terancam kekeringan. Bahkan 100 hektarnya sudah mengalami puso.

Sawah puso di Desa Rias ini sudah terjadi selama sebulan. Kondisi saat ini, sawah-sawah tersebut sudah merekah akibat hujan yang tak kunjung tiba. Hal ini dinyatakan oleh Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kepulauan Bangka Belitung Mikron Antariksa saat dijumpai bangkapos.com di rumah dinas wali kota Pangkalpinang, Jumat (13/9/2019).

Mikron menuturkan potensi kekeringan ini tentu akan berdampak pada segi ekonomi maupun sosial masyarakatnya. Dia menyebut, kerugian gagal panen ini bisa mencapai Rp 8 Milyar.

"tentu ini akan membuat keresahan ada masyarakat. Tahun lalu memang sempat kekeringan tapi tidak separah ini, karena tahun ini kemaraunya lebih panjang," tutur Mikron.

Sementara hujan diprediksi pada November mendatang dan bakal ada hari tanpa hujan dalam waktu satu bulan sehingga perlu upaya untuk mengatasi permasalahan ini. Mikron menambah, intruksi Gubernur Babel, Erzaldi Rosman, untuk membuat saluran sodetan yang dapat mengaliri air ke sawah ratusan hektar tersebut.

"Senin ini kami bersama pak Gubernur akan ke sana. Langsung dibuat sodetan jangan sampai dibiarkan terlalu lama," ujarnya.

Dia mengatakan, perlunya penanganan mengenai masalah kekeringan terutama di daerah lumbung padi seperti Desa Rias. Kedepan, menurutnya harus ada perencanaan yang terintegrasi antara pemerintah daerah, provinsi maupun pusat agar saat musim kemarau tidak terjadi puso yang dapat merugikan warga sekitar.

Lanjutnya kedepan bisa dibangun bendungan dengan sistem buka tutup permanen seperti pintu air yang dapat mengaliri sawah masyarakat.

Sementara itu Mikron menyarankan agar warga melakukan diversifikasi pertanian atau penganekaragaman jenis tanaman pertanian untuk menghindari ketergantungan pada salah satu hasil pertanian saja.

"Pola tanam bisa diubah. Tidak hanya padi saja, tetapi bisa palawija ketika musim kemarau. Saran saya kalau menanam lihat-lihat musim," tukasnya.

(bangkapos.com/ira kurniati)

Penulis: Ira Kurniati
Editor: Ardhina Trisila Sakti
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved