Berita Pangkalpinang

Effendi Gazali Ingatkan Babel Harus Hati-hati Memperhatikan Pola Demografi Penduduknya

Isu bonus demografi menjadi satu dari sejumlah topik pembahasan pada acara sarasehan nasional Pembangunan Berwawasan Kependudukan

Effendi Gazali Ingatkan Babel Harus Hati-hati Memperhatikan Pola Demografi Penduduknya
(BANGKA POS / DEDY Q)
Effendi Gazali di Gale-gale Restaurant, Pangkalanbaru, Bangka Tengah, Jumat (13/9/2019).

BANGKAPOS.COM-- Isu bonus demografi menjadi satu dari sejumlah topik pembahasan pada acara sarasehan nasional Pembangunan Berwawasan Kependudukan yang digelar Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung bersama Kemendagri dan BkkBN di ballroom Gale-gale Restaurant, Pangkalanbaru, Bangka Tengah, Jumat (13/9).

Pada 2030-2040, Indonesia diprediksi akan mengalami masa bonus demografi.

Masa ini ditandai dengan jumlah penduduk usia produktif (berusia 15-64 tahun) lebih besar dibandingkan penduduk usia tidak produktif (berusia di bawah 15 tahun dan di atas 64 tahun).

Bangka Pos mengutip data piramida penduduk hasil sensus 2010 yang dimuat BPS umur rata-rata penduduk Babel saat itu adalah 26,15 tahun, yang artinya mayoritas berusia produktif. Jika melihat piramida penduduk tersebut, maka proyeksi mayoritas penduduk Babel pada 2019 (sembilan tahun kemudian), masih belum berubah. Artinya penduduk usia produktif masih cukup mendominasi Babel saat ini.

Pakar komunikasi, Effendi Gazali mengingatkan Babel harus hati-hati memperhatikan pola demografi penduduknya. Dia juga mengingatkan agar program pemerintah dengan penduduk usia produktif yang merupakan mayoritas menjadi "nyambung".

Dia sepakat ini penting agar tidak ada kesan bahwa pemerintah tidak ke arah barat, sementara penduduknya ke timur.

"Bonus demografi ini harus dimanfaatkan, tetapi cara memanfaatknnya harus diperhatikan betul. Apakah saat ini Babel baru mulai, di tengah-tengah, atau hampir habis bonus demografinya," kata Effendi saat ditemui Bangka Pos seusai acara sarasehan.

Effendi juga sepakat bahwa pemerintah di Babel harus paham bahwa penduduk produktif ini adalah para generasi muda. Satu di antara banyak karakteristiknya adalah melek teknologi.

Sudah saatnya pemerintah diminta untuk berhenti melakukan program-program yang tak tepat sasaran karena tak sesuai dengan demografi penduduk di Babel saat ini.

"Program-program yang tak sejalan dengan usia muda itu, sudah harus dikurangi. Harus menuju pelatihan, atau menuju penggunaan teknologi yang baik," katanya.

Sebelumnya, Gubernur Kepulauan Bangka Belitung (Babel) Erzaldi Rosman mengatakan, jajarannya perlu berhati-hati menyikapi istilah bonus demografi agar tak salah persepsi dalam melihat kondisi demografi di Babel saat ini. Sebaliknya, ia lebih memilih untuk melihat kondisi demografi Babel sebagai tantangan.

"Kalau terlalu membahas menggunakan persepektif bonus, itu artinya sudah take it, sudah dapat, padahal belum dapat. Karena pola pikir kita, ini bonus. Jadi jangan menganggap bonus itu sudah dapat. Justru ini tantangan," kata Erzaldi kepada awak media.

Dia mengatakan, dengan kondisi deomgrafi yang akan didominasi jumlah penduduk muda dan aktif , maka ini harus dimanfaatkan untuk mendapatkan bonus.

"Kalau tidak didapatkan ini bencana malah. Hati-hati ya Ini harus dibahas bener-bener serius, ini lah gunanya sarasehan," katanya.

(bangkapos.com / Dedy Qurniawan)

Penulis: Dedi Qurniawan
Editor: khamelia
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved