Berita Pangkalpinang

Sudah Tiga Minggu Harga Jual Lada Rp 47 Ribu per Kilogram, Padahal Biaya Produksi Petani Rp 80 Ribu

Sudah sekitar tiga minggu harga lada masih berkisar Rp 47.000 - Rp 47.500 per kilogram yang dibeli para pedagang pengepul lada di Kota Pangkalpinang.

Sudah Tiga Minggu Harga Jual Lada Rp 47 Ribu per Kilogram, Padahal Biaya Produksi Petani Rp 80 Ribu
bangkapos.com/Edwardi
Stok lada di gudang kios milik Asen yang terkumpul dari para petani di Pulau Bangka. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Sudah sekitar tiga minggu harga lada masih berkisar Rp 47.000 - Rp 47.500 per kilogram yang dibeli para pedagang pengepul lada di Kota Pangkalpinang.

"Harga lada masih stabil di kisaran Rp 47.000 hingga Rp 47.500 per kg. Harga ini sudah bertahan sekitar tiga minggu terakhir ini," kata Asen, pedagang pengepul lada yang membuka kios di Jalan Soekarno Hatta Kota Pangkalpinang, Jumat (13/09/2019).

Diakui Asen, para petani yang menjual lada saat ini karena terpaksa untuk memenuhi kebutuhan hidup saja.

"Dari pagi tadi hingga siang ini baru satu orang petani dari daerah Mangkol yang datang menjual ladanya, itu pun tidak banyak. Kita juga pahamlah siapa yang mau jual lada saat ini pasti jual rugi karena biaya produksi satu kilogram lada itu sekitar Rp 80.000 per kg," ujar Asen yang sudah lebih 40 tahunan menjadi pengepul lada.

Diungkapkan Asen, penyebab turunnya harga lada dunia saat ini karena banjirnya pasokan lada dari negara Vietnam ke pasar lada dunia.

"Saat ini Vietnam sedang menunggu siapa yang bisa bertahan dengan murahnya harga lada dunia ini. Kalau di Vietnam terjadi bencana alam lalu kebun lada mereka rusak, kemungkinan besar baru harga lada dunia bisa naik lagi. Selain itu faktor cuaca juga menentukan. Memang untuk bencana alam masih aman kondisi di Bangka ini," jelas Asen.

Asen berharap para petani lada di Pulau Bangka harus tetap bertahan, bila di kebun masih ada pohon lada tetap dirawat dan dijaga jangan sampai dibiarkan mati. 

"Memang Vietnam itu menunggu siapa yang kuat bertahan, Kalau tanaman lada di Bangka banyak mati dan para petani tidak mau lagi menanam lada, memang hal inilah yang diinginkan Vietnam sehingga mereka berhasil menguasai pasaran lada dunia," imbuh Asen.

(bangkapos.com/Edwardi)

Penulis: edwardi
Editor: Ardhina Trisila Sakti
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved