WIKI Bangka

Kerajinan Ecoprint, Bahan Baku Alam Hasilkan Produk Bernilai Ekonomis

Pembuatan Ecoprint terbilang sederhana dan mudah jika dibandingkan dengan Batik karena hasil kerajinan Ecoprint dapat menggunakan dedaunan

Kerajinan Ecoprint, Bahan Baku Alam Hasilkan Produk Bernilai Ekonomis
Bangkapos/Jhoni
Produk ecoprint 

BANGKAPOS.COM - Kerajinan Ecoprint memang terdengar masih asing terdengar di telinga masyarakat Bangka Belitung, karena orang akan mengira hasil kerajian Ecoprint sama seperti batik. Padahal keduanya berbeda.

Jika biasanya Batik memiliki aneka motif dan warna, maka Kerajinan Ecoprint berwarna sedikit agak pucat dengan dominasi warna cokelat ataupun kekuningan karena memang berasal dari warna alami dedaunan.

Pembuatan Ecoprint terbilang sederhana dan mudah jika dibandingkan dengan Batik karena hasil kerajinan Ecoprint dapat menggunakan dedaunan, sedangkan Batik harus menggunakan canting dan cairan khusus.

Inovasi Wiwik dalam penggunaan bahan alami untuk mewarnai kain ecoprint layak diacungi jempol. Karena dari bahan baku alam ia bisa menghasilkan aneka produk  mulai dari kaos, selendang, dompet, jilbab hingga kipas.

Ibu rumah yang bergelut di bidang entrepreneur ini mengungkapkan, hasta karya ecoprint bisa menghasilkan nilai ekonomis yang tinggi. Terlebih bahan bakunya banyak tersedia dari alam sehingga mudah diperoleh.

"Bangka Belitung memiliki banyak pohon yang dapat digunakan sebagai motif pembuatan kain Ecoprint seperti misalnya Daun Ketapang, Daun Jati, Daun Kalpataru, Daun Tabebuya, Daun Jarak dan masih banyak lagi daun-daun lainnya," ujar Wiwik kepada bangkapos.com

Menurut Wiwik Batik dan Ecoprint berbeda dikarenakan membatik dilakukan dengan menghias kain menggunakan pewarna dan menggunakan canting sedangkan Ecoprint tidak. Membuat kerajinan Ecoprint hanya menggunakan daun-daun yang cocok.

daur ulang menghasilkan produk ecoprint bernilai ekonomis tinggi
Bahan daur ulang menghasilkan produk ecoprint bernilai ekonomis tinggi (Bangkapos/Jhoni)

Selain itu perbedaannya lanjut Wiwik, jika kain batik dapat dicetak hingga ratusan lembar kain namun untuk kain Ecoprint tidak demikian alias dicetak terbatas.

Wiwik mengaku mulai menggeluti Ecoprint sejak dirinya mengikuti kegiatan Slow Fashion Lab yang digelar di Daerah Istimewa Yogyakarta pada 2017 silam.

Wiwik menyebutkan dirinya tidak pernah menggunakan pewarna sintetis atau perwarna imitasi karena menurutnya dedauan yang digunakan telah memiliki warna tersendiri yang khas.

"Sebelum pencetakan, kami lebih dulu merendam atau sering disebut proses mordan sebagai treatment agar motif dan kain benar-benar baik, untuk kain katun memakan waktu sekitar tiga hari tetapi kalau sutera sehari juga cukup," ujarnya

Wiwik berharap ecoprint bisa berkembang pesat dan produknya bisa menjadi ciri khas untuk pengembangan destinasi wisata pulau Bangka Belitung.

(Bangka Pos/Jhoni Kurniawan)

Penulis: Jhoni Kurniawan
Editor: khamelia
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved