Berita Belitung

Stok Sukun Makin Sulit Didapat, Mengancam Produksi Keripik Buah Tangan Khas Belitung

Keterbatasan stok buah sukun mempengaruhi ketersediaan pasokan bahan untuk pembuatan keripik sukun di kalangan usaha kecil menengah (UKM) di Belitung

Stok Sukun Makin Sulit Didapat, Mengancam Produksi Keripik Buah Tangan Khas Belitung
Dokumentasi Bangka Pos
Pemilik produk sukun Nuansa Baru, Hasnah saat sedang membuat keripik sukun di kediamannya, Rabu (10/8). 

BANGKAPOS.COM, BELITUNG - Buah sukun mulai sulit diperoleh, padahal buah satu ini diminati sebagai bahan untuk produksi keripik sukun. Sebuah cemilan untuk buah tangan yang banyak digemari warga terutama wisatawan yang datang ke Pulau Belitung.

Keterbatasan stok buah sukun mempengaruhi ketersediaan pasokan bahan untuk pembuatan keripik di kalangan usaha kecil menengah (UKM) di Kabupaten Belitung dan Belitung Timur.

Seperti yang dikatakan Marni pemilik UKM Keripik Sukun Sukma. Wanita yang sudah 30 tahun membuat keripik sukun ini mengatakan kini memang buah sukun memang semakin banyak penggemarnya. Makanya ia pun harus menyiasati agar bisa kebagian.

"Aku lah muat keripik sukun dari dulu aku beli harga sukun Rp 500 per buah. Kalau sekarang harus rebutan, biar terus dapat buah sukun, kadang harga belinya aku naikin. Kalau orang lain belinya Rp 3.000, aku beli Rp 5.000 per buah," katanya, Senin (16/9).

Marni memproduksi keripik sukun di rumahnya Desa Air Merbau. Buah sukun biasa dibeli dari langganannya di Manggar karena baginya kualitas sukun di Manggar lebih baik.

Dalam sepekan ia bisa menghabiskan sampai sekitar 100 buah sukun. Marni biasa menyetok buah sukun agar produksi dapat terus berlangsung.

Saking populernya cemilan tersebut sebagai oleh-oleh, menurutnya dalam sepekan ia bisa menghasilkan jutaan rupiah. Bahkan ia pernah menghabiskan satu ton buah sukun dalam waktu sepekan saja.

"Permintaan keripik sukun ini banyak kalau banyak wisatawan datang. Walaupun produksi seberapa banyak pun laku terus," imbuhnya.

Meskipun permintaan banyak, tak jarang ia harus berhenti produksi sementara waktu. Ini dilakukan karena sukun belum dipanen. Biasanya buah bernama ilmiah Artocarpus altis ini hanya dipanen sekitar tiga kali dalam setahun. Meski jika ditanam di daerah dekat sumber air bisa rutin berbuah.

"Biasanya paling banyak panen sukun itu Desember," tuturnya.

Semakin hari harga Keripik Sukun kian mahal akibat tak diimbangi dengan ketersediaan bahan.

Tanaman sukun hanya diperoleh dari warga yang menanam satu atau dua batang di sekitar halaman rumah. Namun seiring waktu diantaranya tak lagi berbuah karena termakan usia.

Ada juga telah ditebang diganti dengan tanaman lain. Akibatnya UKM mulai kesulitan mendapatkan stok buah sukun ini.

(posbelitung.co/Adelina Nurmalasari)

Penulis: Adelina Nurmalitasari
Editor: Ardhina Trisila Sakti
Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved