WIKI BANGKA

Martabak, Timah, dan Akulturasi Melayu-Tionghoa di Bangka Belitung

Di Bangka, Hoklopan awalnya dibuat dengan menggunakan wadah berupa loyang dari kuningan dengan cara dimasak menggunakan bahan bakar arang kayu.

Martabak, Timah, dan Akulturasi Melayu-Tionghoa di Bangka Belitung
youtube rumah kue uchie
Martabak Bangka 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Film "Martabak Bangka" mulai tayang di biskop Rabu (18/9/2019). Film besutan sutradara Erman Pradipta itu mengangkat kuliner Martabak sebagai bagian dari cerita.

‘Martabak Bangka’ mengemas kisah tentang kearifan lokal Bangka Belitung. Kuliner khas ini dianggap sebagai bentuk m akulturasi budaya etnis Tionghoa dan Melayu yang harmonis di Babel.

Film yang mengisahkan tentang seorang pemuda bernama Jaya (diperankan Ramon Y. Tungka) yang sedang mengalami dilema saat menjual kedai Martabak Bangka Acun.

Jaya yang mendatangi Pulau Bangka dan bertemu dengan warga etnis Tionghoa guna mencari keluarga Acun menjadi bagian dari cerita film.

Sejarahwan Pangkalpinang Akhmad Elvian pernah mengupas soal ini pada 2015 lalu. Kepada bangkapos.com, Elvian menceritakan kembali tentang Martabak, Timah, Melayu, dan Tionghoa memiliki cerita tersendiri di Bangka Belitung.

Dia menuturkan, setelah timah ditemukan dalam deposit yang besar di Pulau Bangka, terutama di daerah Sungai Olin, pesisir Barat Bangka Selatan, serta di daerah Tjengal Merawang sekitar tahun 1709/1710 Masehi. Timah ditemukan dengan tidak sengaja oleh pribumi Bangka, orang Darat, ketika membakar hutan untuk ladang yang akan ditanam padi.

Karena orang-orang pribumi Bangka (Bangkanese), orang Darat (orang Gunung) dan orang Laut (orang Sekak) memiliki mata pencaharian hidup sendiri seperti kehidupan berume (berladang padi darat) dan mencari hasil-hasil laut seperti ikan, teripang dan rumput laut, maka Sultan Kesultanan Palembang Darussalam (sejak masa Sultan Muhammad Mansyur Jayo Inglago, masa pemerintahan 1704-1716 Masehi) mulai mendatangkan orang-orang Cina terutama dari Cina bagian selatan ke pulau Bangka untuk menambang timah.

"Sejak masa itu datanglah orang-orang Cina ke pulau Bangka yang kemudian membentuk kongsi-kongsi penambangan timah dengan kewajiban menjual timah kepada Sultan Palembang," tutur Elvian.

Timah kemudian dijual Sultan Palembang ke VOC di Batavia. Sultan Palembang memiliki hak monopoli dalam perdagangan timah dan sultan memiliki kontrak perdagangan timah dengan VOC di Batavia yang ditandatangani pada  1710 Masehi.

Kebanyakan pekerja tambang dari daratan Cina yang didatangkan sultan ke Pulau Bangka pada masa itu adalah masyarakat pertukangan (Gilda). Mereka terutama berasal dari suku Hakka atau Khek dan suku Hokkian atau Hoklo.

Halaman
12
Penulis: Dedi Qurniawan
Editor: Ardhina Trisila Sakti
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved