Berita Pangkalpinang

Tingkat Keberdayaan Konsumen Masyarakat Babel Masih Kategori "Mampu"

Survei ini bertujuan agar masyarakat mengetahui hak, dan kewajiban terhadap benda-benda yang beredar di Bangka Belitung

Tingkat Keberdayaan Konsumen Masyarakat Babel Masih Kategori
Bangkapos.com/Cici Nasya Nita
Sosialisasi Survei Pengukuran Indeks Keberdayaan Konsumen di ruang Tanjung Pesona, Kantor Gubernur, Senin, (23/9/2019) 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Dinas Perdagangan, dan Perindustrian Provinsi Kepulauan Bangka Belitung bekerja sama dengan Fakultas Ekonomi Universitas Bangka Belitung menggelar Sosialisasi Survei Pengukuran Indeks Keberdayaan Konsumen di ruang Tanjung Pesona, Kantor Gubernur. Senin, (23/9/2019).

"Hari ini terkait sosialisasi dari hasil survei pengukuran indeks keberdayaan konsumen. Ini kita mengukur untuk tahun ke dua Bangka Belitung, kita mengukur sendiri. Kita bekerja sama dengan pihak UBB menilai bagaimana keberdayaan konsumen terhadap barang-barang yang beredar disini," ungkap Riza Aryani Kabid Perlindungan Konsumen dan Kemetriologian

Survei ini bertujuan agar masyarakat mengetahui hak, dan kewajiban terhadap benda-benda yang beredar di Bangka Belitung. Survei dilaksanakan selama bulan Juni sampai Agustus 2019. Pelaksanaan di tujuh kabupaten yang berada di Bangka Belitung, dengan jumlah 400 responden.

Sosialisasi ini mengundang berbagai pihak meilputi Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Bangka Belitung, Bank Indonesia, perwakilan setiap kabupaten, Bappeda, BPS, dan Mahasiswa berbagai Perguruan Tinggi di wilayah Bangka Belitung.

"Pengawasan barang yang beredar ini tugas kita bersama. Aparatur negara memiliki keterbatasan, sehingga perlu upaya dari semua masyarakat juga. Contoh pelaku usaha memperhatikan barang yang kadaluarsa tidak boleh dijual, pengembalian uang tidak boleh pakai permen, ada hukum perdata, atau pidana. Sanksi administrasi pencabutan izin usaha, dan sanksi pidana," ungkap Riza.

Riza berharap dengan diadakan survei ini masyarakat lebih paham dengan hak, dan kewajiban sebagai konsumen serta aktif dalam menyampaikan keluhan apabila ada sesuatu barang yang bermasalah. Masyarakat dapat memberikan keluhan barang yang tidak layak menggunakan sosial media seperti Intagram, Facebook, dan WhatsApp.

Dr Reniati, Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Bangka Belitung menyampaikan bahwa hasil survei yang telah dilakukan menunjukan Tingkat Keberdayaan Konsumen Masyarakat Bangka Belitung Kategori "Mampu".

"Survei ini merupakan salah satu monitoring yang dilakukan pemerintah sejauh mana konsumen mengetahui hak, dan kewajibannya. Indeks keberdayaan konsumen di Bangka Belitung itu 43,34, ini masuk kategori "Mampu". Kategori tersebut maksudnya masyarakat di Bangka Belitung mampu menggunakan hak, dan kewajiban konsumen untuk menentukan pilihan terbaik serta menggunakan produk dalam negeri," ungkat Reniati.

Reniati juga mengatakan masyarakat Babel ke depan harus melakukan beberap perbaikan seperti literasi konsumen, tingkatkan pengaduan komplain apabila barang tidak memadai, dan menyiapkan spot-spot untuk pengaduan serta perlu disosialisasikan.

"Kita berharap lagi tingkat keberdayaan konsumen disini sampai Kritis (nilai indek 60,1-80), dan Berdaya (80-100). Berperan aktif memperjuangkam hak, dan kewajiban kemudian memiliki nasionalisme tinggi, serta berinteraksi dengan pasar aktif memperjuangkan kepentingan konsumen," jelas Reniati.

Reniati juga menjelaskan Asesibititas Masyarakan terhadap Pembelanjaan Media Online sudah mulai tinggi. Persentase masyarakat mengetahui media perdagangan online sebesar 89 persen, untuk pengguna yang membeli barang online sebesar 73 persen. Sedangkan masyarakat yang mengetahui transportasi bebasis online sebesar 83 persen, dan untuk yang pernah menggunakannya sebesar 55 persen.

(Bangkapos.com/Cici Nasya Nita)

Tags
survei
ubb
Penulis: Maggang (mg)
Editor: khamelia
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved