Berita Pangkalpinang
Jatuh Bangun Resya Rachim Jalankan Usaha Kulinernya Saiap-Saiap Patah
Inilah yang dihadapi Resya Rachim, owner Saiap-Saiap Patah saat menjalani usahanya. Namun ia tak lantas menyerah
BANGKAPOS.COM-- Untuk menjalankan sebuah usaha tidaklah mudah, banyak rintangan dan tantangan yang harus dijalani sehingga usaha bisa stabil dan terus berkembang.
Inilah yang dihadapi Resya Rachim, owner Saiap-Saiap Patah saat menjalani usahanya. Namun ia tak lantas menyerah dan terus berinovasi agar usahanya bisa terus berkembang.
"Sekarang sudah lumayan bang, maksudnya dibandingkan waktu awal saya merintis usaha ini, mempertahankan dan konsisten itu yang sulit sekarang," ungkap Resya kepada bangkapos.com, Selasa (24/9/2019).
Tempat usaha olahan ayam, cumi hingga sambel ala Saiap-Saiap Patah ini sangat sederhana, digelar di teras rumah petakan dan dagangannya diisi di atas meja.
Tepatnya di jalan Belinjo, Kelurahan Bukit Merapin, Kecamatan Gerunggang, Pangkalpinang, dari situlah Resya dan tiga orang karyawannya kini menjalankan usahanya.
Meski demikian, pelanggan terus berdatangan mencari makanan kekinian ciptaan Saiap-Saiap Patah ini, Rasya mengaku memanfatkan media sosial sebagai pendukung berpromosinya.
"Karena media sosial sangat kuat sekarang, anak muda tidak lepas dari itu, kebetulan saya gunakan instagram untuk berpromosi usaha salah satunya," ungkap Resya
Rasya mengisahkan, usahanya ini mulai berjalan Februari 2018, waktu itu dirinya sambil bekerja di salah satu toko kosmetik di Pangkalpinang.
Ditengah kesibukannya tersebut, kata Resya, selepas kerja dirinya mulai menyiapkan dagangan, seperti barang-barang, masak hingga memasarkannya.
"Kalau di pikir-pikir berat sih masa awal dulu, bayangkan pulang kerja pukul 16.00 WIB. Setelah itu baru mau beli barang untuk jualan, masaknya, setelah itu ngejualnya lagi, dan itu tempatnya tidak nentu, semuanya dikerjakan sendiri," sebutnya.
Perjuangannya tidak sampai di situ, ketika memasarkan produk misalnya, hujan dan panas sudah biasa dijalankannya, saat di jalan pernah jajanannya kececeran karena tempat yang digunakan tidak kuat menahan angin. Selain itu disenggol pengendara kendaraannya, pernah juga dicancel pesanan setelah dipesan.
"Macam-macamlah bang kenangannya, masa awal dulu, saya jualan tidak nentu tempatny. Kalau jualankan dibawa-bawa, ya begitulah, masalah dengan masakan juga iya, maksudnya mungkin kurang pas, bumbu atau ayamnya, banyaklah dan saya banyak belajar dari itu semua," kata Resya.
Diakui Resya, ia tidak punya basic berbisnis, begitupun di keluarganya, begitu juga dengan masak memasak, bahkan orang tuanya sempat meragukan usahanya.
Usaha inipun diawalnya dengan nekat, dengan modal pinjaman dari orang tuanya, waktu itu sekitar Rp 200 ribu untuk membeli bahan yang dibutuhkan.
"Jualan sayap ayam ini dari galau, tentang kehidupanlah, ngak tau juga bisa sampai seperti ini, tapi yang jelas usaha ini modal awalnya minjam sama orang tua Rp 200 ribu, modalnya nekat saja, pengen belajar," sebutnya.
Kini katanya, dirinya ingin lebih fokus berwirausaha dengan konsisten mengolah sayap ayam hingga sambel, pekerjaan rutin sebagai karyawan swastapun ditinggalkannya.
Diapun patut berbangga produknya sering wara wiri pameran di daerah, pelanggannyapun menyebar dipenjuru Indonesia, bahkan hingga Turki. (Bangkapos.com/Nordin)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/resya.jpg)