Berita Sungailiat

Rawa Airanyut Ditembok, Pol PP Khawatir Pemicu Banjir. Tanah Pantai Matras Pun Diklaim Milik Pribadi

Ironis dan memancing polisi pamong praja (Pol PP) turun tangan, ketika kawasan rawa-rawa resapan air ditimbun oleh sekelompok orang

Rawa Airanyut Ditembok, Pol PP Khawatir Pemicu Banjir. Tanah Pantai Matras Pun Diklaim Milik Pribadi
(IST/A.Suherman)
Tampak Satpol PP Bangka meninjau lokasi penembokan rawa-rawa di Lingkungan Airanyut Sungailiat Bangka, Selasa (24/9/2019). 

BANGKAPOS.COM, BANGKA-- Ironis dan memancing polisi pamong praja (Pol PP) turun tangan, ketika kawasan rawa-rawa resapan air ditimbun oleh sekelompok orang yang mengaku perwakilan pemuda di Lingkungan Airanyut Sungailiat Bangka. Pol PP Pemkab Bangka mensinyalir ada kepentingan pribadi yang bertentangan pada kepentingan umum, segingga Pol PP melakukan pemeriksaan di lapangan, Selasa (24/9/2019).

"Pengecekan penembokan lahan di belakang Megamart Airanyut, lahan kosong yang sebelumnya rawa-rawa ditumbuhi pohon nipah. Penembokan oleh masyarakat, yang katanya tujuan penembokan agar dapat dimanfaatkan untuk kegiatan desa (lingkungan/kelurahan), seperti pasar tradisional dan menghindar pematokan lahan oleh oknum tertentu untuk dijadikan hak milik," kata Kepala Satpol PP Bangka, Dalyan Amrie diwakili Kabid Perundang-Undangan, Achmad Suherman, Selasa (24/9/2019).

Pemantauan Pol PP, lokasi tersebut merupakan daerah resapan air, pasang surut. Pol PP kawatir, jika lokasi ditembok tanah, maka air sungai tergenang di jalan dan masuk pemukiman.

"Kita kawatir karena di daerah tersebut rawan banjir. Kalau ditembok harusnya perlu kajian dinas teknis dulu," katanya.

Kegiatan pemantauan penembokan dipimpin Kasi Pengawas Satpol PP Bangka, Dody Fitrifiansyah bersamaal beberapa anggota. 

"Alasan pemuda di situ untuk jadi aset negara. Kalau jasi aset daerah harusnya, minimal ada surat menyurat dari pemerintah kelurahan setempat. Jangan sampai akhirnya alasan nembok uruk tanah aset daerah, kemudian beralih fungsi ke pribadi," sindir Suherman.

Sebab menurut Suherman sudah banyak contoh modus serupa. Kawasan umum dan terlarang ditimbun kemudian diam-diam dijadikan milik pribadi. "Coba kita lihat Pantai Matras sudah dipagar oleh orang pribadi, dan herannya muncul surat tanahnya. Akhirnya kita susah mengembangkan wilayah tersebut," protes Suherman.

(Bangkapos/Ferylaskari).

Penulis: ferylaskari
Editor: khamelia
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved