Mengintip IPWL DWIN Foundation Babel, Yayasan Kesejahtraan Khusus Korban Penyalahgunaan Narkotika

Instansi Penerima Wajib Lapor (IPWL) Rehabilitasi Sosial Dharma Wahyu Insani (DWIN) Foundation, lebih dikenal sebagai yayasan kesejahteraan sosial

Mengintip IPWL DWIN Foundation Babel, Yayasan Kesejahtraan Khusus Korban Penyalahgunaan Narkotika
bangkapos.com/m rizky
Instansi Penerima Wajib Lapor (IPWL) Rehabilitasi Sosial Dharma Wahyu Insani (DWIN) Foundation dan Devi (Kanan) 

Mengintip IPWL DWIN Foundation Babel, Yayasan Kesejahtraan Khusus Korban Penyalahgunaan Narkotika

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Instansi Penerima Wajib Lapor (IPWL) Rehabilitasi Sosial Dharma Wahyu Insani (DWIN) Foundation, lebih dikenal sebagai yayasan kesejahteraan sosial khusus korban penyalahgunaan narkotika, alkohol, psikotropika dan zat adiktif lainnya (Napza), yang berpusat di Palembang Sumatera Selatan.

Untuk di Provinsi Bangka Belitung (Babel) IPWL Dwin Foundation yang beralamat di Jl Pahlawan 12 Petaling, Kecamatan Mendobarat Kabupaten Bangka, sudah terbentuk sejak tahun 2017, yang pada saat ini bertugas sebagai pengurus adalah Devi.

Di bangunan yang memiliki luas 13x17 meter ini masih dalam tahap pembangunan, terlihat di beberapa titik dinding bangunan baru dilapisi plesteran semen halus, namun tetap bersih dan rapi.

Fasilitas di dalam bangunan ini juga cukup lengkap, seperti kantor, ruang tamu, musholah, 4 buah kamar kecil yang berukuran sekitar 2x3 yang terdiri dari satu kamar untuk klien inhouse, dua kamar staff, dan satu kamar detox.

Dan ada juga satu kamar yang berukuran cukup besar yang bisa menampung setidaknya 20 klien, dengan kasur tingkat dua, dan di sebelah selatan ada ruang semi terbuka yang biasa digunakan untuk program penyembuhan.

Fasilitas belajar, programnya pun bisa dibilang memadai seperti program belajar terkait bahaya kecanduan, Cognitive Behavior Therapy (CBT), MI (Motivation Interviewing), TC (Telepotic Comunity).

Hebatnya semua fasilitas ini dibiayai sendiri secara mandiri oleh yayasan, atau tanpa bantuan apa pun dari pemerintah, Devi mengatakan jika ia berprinsip jika ia tidak akan menadah untuk meminta bantuan kepada pemerintah, namun ia juga tidak menutup diri apabila pemerintah ingin memberikan.

"Prinsip saya begini, jika pemerintah memberikan pekerjaan kepada kami, maka akan kami lakukan dengan senang hati, terlepas ada atau tidaknya bantuan. Saya ga mau nadah minta bantuan kirim proposal tapi ga kerja. Tapi kalau memang pemerintah mau bantu ya silahkan," ujar Devi, Jumat (27/9/2019) kepada Bangka Pos.

Saat ini ada tujuh orang staff untuk program penyembuhan, dan ketujuh orang staff tersebut berlatar belakang para pecandu napza, termasuk Devi sendiri mengaku pernah terjerumus menjadi pecandu narkotika jenis sabu, inex, dan ganja selama 16 tahun.

Halaman
12
Penulis: Muhammad Rizki
Editor: Evan
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved