Kamis, 16 April 2026

Berita Bangka Tengah

300 Burung Kolibri Hasil Selundupan Dilepas di Hutan Mangrove Munjang

Balai Karantina Pangkalbalam, BKSA, dan pengelola Hutan Mangrove Munjang melakukan pelepasan 300 ekor burung Kolibri di Hutan Mangrove Munjang

Editor: khamelia
Dokumentasi Mangrove Munjang
Pelepasan Burung Kolibri di Hutan Mangrove Munjang. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Balai Karantina Pangkalbalam, BKSA, dan pengelola Hutan Mangrove Munjang melakukan pelepasan 300 ekor burung Kolibri di Hutan Mangrove Munjang, Kabupaten Bangka Tengah (Bateng).

Pengelola Hutan Mangrove Munjang Yasir mengatakan pelepasan 300 ekor kolibri ninja ini merupakan hasil sitaan dari Balai Karantina Pangkalbalam yang hendak diselundupkan dari Bangka Belitung (Babel) ke Jakarta.

Ia mengatakan pemilihan Hutan Mangrove Munjang sebagai tempat pelepasan burung kolibri ini, dikarenakan kolibri jenis ninja ini memang sering ditemukan di daerah hutan mangrove.

"Selain itu, hutan kita seluas 600 hektare ini kan masih alami, sehingga kemungkinan untuk hidup dan berkembang biak itu lebih besar," ujar Yasir, Senin (30/9/2019) kepada Bangkapos.com.

Habitat burung kolibri di wilayah Babel saat ini masih cukup banyak, dan menurut Yasir burung kolibri asal Babel ini juga termasuk burung kolibri yang memiliki kualitas yang bagus. Saat ini satu ekor burung kolibri dihargai di kisaran harga Rp 200 ribu- Rp 1 juta per ekornya. Sehingga tak heran jika burung jenis ini menjadi incaran tangan-tangan yang tak bertanggung jawab.

"Sudah sering terjadi penyelundupan burung ini, kemarin saja teman-teman dari Alobi melepaskan sekitar 100 ekor dengan jenis yang sama,"

Beberapa jenis burung kolibri adalah burung yang dilindungi oleh undang-undang, dan untuk memiliki burung tersebut biasanya menurut Yasir memerlukan izin khusus.

Ia juga mengatakan biasanya penyelundup burung Kolibri ini menangkap burung ini dengan cara menggunakan lem, dan jaring perangkap burung, dikarenakan burung kolibri ini tidak bisa diternak.

Lebih lanjut Yasir mengatakan luas hutan di Babel ini makin hari makin sedikit, sehingga jumlah satwanya pun makin berkurang, oleh karena itu ia mengimbau agar masyarakat dapat menjaga dan melestarikan satwa tersebut, karena jika tidak dilestarikan maka ke depannya anak cucu kita tidak akan lagi bisa melihat satwa tersebut.

(Bangkapos/Muhammad Rizki/R1)

Sumber: bangkapos.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved