Berita Pangkalpinang

Ini Penilaian Dosen Ekonomi FE UBB Terkait Jebloknya Harga Timah di Titik Terendah Tahun 2019

Bulan Agustus 2019 nilai ekspor Bangka Belitung turun 48,3 persen jika dibandingkan bulan Agustus tahun 2018.

Ini Penilaian Dosen Ekonomi FE UBB Terkait Jebloknya Harga Timah di Titik Terendah Tahun 2019
bangkapos/resha juhari
Balok timah di gudang penyimpanan di sekitar Pelabuhan Pangkalbalam, Pangkalpinang 

BANGKAPOS.COM-- Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Bangka Belitung Devi Valeriani mengatakan, nilai ekspor timah dan non timah menjadi salah satu indikator bagi perekonomian daerah.

Bulan Agustus 2019 nilai ekspor Bangka Belitung turun 48,3 persen jika dibandingkan bulan Agustus tahun 2018.

Turunnya nilai ekspor tersebut dipicu oleh turunnya nilai ekspor timah dan non timah, yang masing-masing turun sebesar 34,49 persen dan 90,62 persen.

"Turunnya nilai ekspor tersebut tidak hanya secara lokal. Namun ekspor secara nasional pun mengalami penurunan," kata Devi, Selasa (1/10/2019) malam.

Menurut dia, penyebab penurunan tersebut diantaranya adalah perang dagang, fluktuatif harga komoditas dan pengaruh musim. Seperti kondisi saat ini, harga timah mengalami penurunan yang sangat signifikan terendah kurun waktu Januari hingga Agustus yaitu sebesar 16.865 USD/Metrik Ton.

"Sehingga berdampak terhadap menahan ekspor, untuk menunggu harga yang lebih stabil dengan harapan akan memperoleh keuntungan yang lebih baik," katanya.

Balok Timah-- Petugas PT BGR sedang melakukan pengecekan balok timah di ekspor.
Balok Timah-- Petugas PT BGR sedang melakukan pengecekan balok timah di ekspor. (Bangkapos/Hendra)

Dia menjelaskan, sama halnya dengan komoditas non timah yaitu lada. Harga yang masih rendah yang hanya Rp 46.000 per kilogram, membuat petani menahan untuk melempar ke pasaran, yang berakibat terbatasnya volume lada yang akan di ekspor .

"Selain faktor harga, tingkat produksi pun mengalami penurunan yang disebabkan oleh musim dan tingginya biaya produksi serta mulai terbatasnya lahan yang produktif," kata dia.

Pada komoditas perikanan pun demikian. Faktor cuaca angin kencang, jarak tangkap yang semakin jauh menjadi penyebab menurunnya jumlah tangkapan, dan berdampak terhadap penurunan nilai ekspor.

"Agar nilai ekspor tetap terjaga daerah harus mengupayakan produk hasil sumber daya alam lainnya yang ekspornya belum termanfaatkan dengan optimal, sehingga mampu menjadi penopang dan peluang ekspor dari komoditas yang sudah ada," ujar Devi

Halaman
12
Penulis: Dedi Qurniawan
Editor: nurhayati
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved