Berita Pangkalpinang

Bank Indonesia Kantor Perwakilan Bangka Belitung Beberkan Penyebab Biaya Hidup Tinggi

Unit Pengembangan Ekonomi BI (Bank Indonesia) Kantor Perwakilan Bangka Belitungmenjelaskan penyebab biaya hidup tinggi di Bangka Belitung

Bank Indonesia Kantor Perwakilan Bangka Belitung Beberkan Penyebab Biaya Hidup Tinggi
Dokumentasi Bangka Pos
Gedung Baru Bank Indonesia Kantor Perwakilan Bangka Belitung yang berlokasi di wilayah perkantoran Gubernur Babel, Air Itam, Pangkalpinang. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Unit Pengembangan Ekonomi BI (Bank Indonesia) Kantor Perwakilan Bangka Belitung, Taufik Eko Nugroho menjelaskan penyebab biaya hidup di Bangka Belitung tinggi setidaknya dapat dilihat dari dua sisi

"Pertama dari sisi geografis, secara umum di Indonesia daerah kepulauan, seperti Babel dan Kepulauan Riau biaya hidup relatif lebih tinggi. Pertama kendala transportasi dan kedua ketergantungan supply barang terhadap daerah lain khususnya untuk bahan-bahan baku yang tidak bisa dihadirkan sendiri," ungkap Taufik kepada bangkapos.com. Rabu, (2/10/2019).

Sisi kedua dari historis perekonomian daerah Bangka Belitung; harga barang merupakan cerminan permintaan dan penawaran.

"Kalau permintaanya banyak dengan jumlah barang yang sama harga pasti akan naik begitupula sebaliknya. Pertumbuhan Ekonomi Babel pernah mengalami boom komoditas sekitar tahun 2008 - 2012, dimana harga internasional komoditas utama, timah, sawit, lada dan karet relatif tinggi yang berdampak pada meningkatnya perputaran uang di Babel dengan cepat sehingga meningkatkan permintaan masyarakat," ungkap Taufik.

Tingginya permintaan yang cepat dan tidak diimbangi dengan penyediaan barang konsumsi mengakibatkan meningkatnya harga menuju titik keseimbangan baru karena harga berapapun akan dibeli; salah satu pemgaruhnya adalah masyarakat yang toleran terhadap harga sehingga budaya tawar menawar masyarakat Babel menjadi rendah.

"Tingginya harga juga direspon dengan kenaikan UMP yang cukup lumayan agar daya beli masyarakat membaik. Saat ini UMP Babel masuk yang tertinggi di Sumatera. Sayangnya sekitar tahun 2012 terjadi krisis komoditas secara Internasional dimana negara tujuan ekspor babel mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi, pabrik-pabrik mengurangi produksinya yang berdampak pada menurunnya permintaan komoditas ekspor babel yaitu karet, timah dan sawit mengakibatkan harga turun. Hal tersebut berdampak pada turunnya perekonomian Babel pada periode2 setelahnya ," ungkap Taufik

Ekonomi Babel yang melambat berakibat pada turunnya daya beli masyarakat secara cepat namun harga tidak serta merta turun karena Babel mengalami Inflasi yang cukup tinggi pada periode 2013-2014.

Berbagai upaya dilakukan Pemerintah Daerah bersama Stakeholder lainnya untuk menjamin masyarakat dapat memenuhi kebutuhannya. Melalui Tim Pemgendalian Inflasi Daerah diupayakan untuk memperlancar jalur distribusi, perdagangan antar daerah, pemantauan harga dan stok gudang, pasar murah dan program lainnya. Melalui Satgas Pangan yg dipimpin Dirkrimsus Babel bersama Pemda melakukan monitoring terhadap gejolak harga dan menindak perilaku pedagang atau distributor yang melakukan kecurangan.

Di sisi lain, masyarakat perlu menyadari keadaan saat ini dengan lebih bijak dalam berbelanja kebutuhannya, mengatur pola pengeluaran, meningkatkan etos kerja serta melakukan berbagai inovasi yang meningkatkan efisiensi biaya dan produktifitas. Jangan sekedar melakukan bussiness as usual karena keadaan sekarang berbeda dengan 10 tahun yang lalu. Harga Komoditas unggulan Babel seperti Timah, Karet, sawit dan lada masih lemah.

(bangkapos.com/Cici Nasya Nita)

Penulis: Maggang (mg)
Editor: Ardhina Trisila Sakti
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved