Cabuli Keponakan, Bujang Dituntut Tujuh Tahun Penjara

Albani alias Bujang (37), dituntut pidana tujuh tahun penjara. Jaksa penuntut umum (JPU) juga meminta terdakwa membayar denda Rp 800 Juta

Cabuli Keponakan, Bujang Dituntut Tujuh Tahun Penjara
bangkapos.com/Fery Laskari
Kepala Cabjari Belinyu, Dede MY. 

Cabuli Keponakan, Bujang Dituntut Tujuh Tahun Penjara

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Albani alias Bujang (37), dituntut pidana tujuh tahun penjara. Jaksa penuntut umum (JPU) juga meminta terdakwa membayar denda Rp 800 Juta subsider tiga bulan kurungan penjara.

Tuntutan ini diajukan ke majelis hakim karena jaksa yakin pria asal desa Gunungmuda Belinyu Bangka itu terbukti mencabuli bocah perempuan usia tujuh tahun yang tak lain keponakannya sendiri.

Hal ini ditegaskan oleh Kepala Cabang Kejaksaan Negeri (Cabjari) Belinyu, Dede MY kepada Bangka Pos, Rabu (2/10/2019).

"Agar Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Sungailiat menjatuhkan pidana kepada Terdakwa Albani alias Bujang berupa pidana penjara selama tujuh tahun," kata Dede mengutip inti tuntutan yang sudah dibacakan saat sidang, Selasa (1/10/2019) kemarin di PN Sungailiat.

Tuntutan pidana selama tujuh tahun penjara yang dimaksud dikurangi masa tahanan yang sudah dilalui oleh terdakwa Albani alias Bujang, sejak ia ditangkap, beberapa waktu lalu.

"Terdakwa Albani alias Bujang juga diharuskan membayar denda sebesar Rp 800 Juta, subsider tiga bulan kurungan, dengan perintah terdakwa tetap berada dalam tahanan," tegas Dede.

Dalam surat tuntutan JPU kata Dede disebutkan, perbuatan Terdakwa Albani alias Bujang sebagaimana diatur dan diancam Pasal 82 Ayat 1 dan Ayat 2 Undang-Undang (UU) RI, Nomor 17 Tahun 2016 tentang penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UU Nomor 1 Tahun 2016 tentang perubahan kedua UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak menjadi undang-undang.

"Jo (Juncto) Pasal 76E UU RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak dalam dakwaan primair penuntut umum," kata Dede.

Pada pasal dan ayat berlapis ini disebutkan, tentang kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa melakukan tipu muslihat, melakukan serangkaian kebohongan atau membujuk anak melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul.

"Yaitu yang dilakukan orangtua, wali, orang-orang yang mempunyai hubungan keluarga, pengasuh anak, tenaga pendidikan, aparat yang menangani perlindungan anak atau dilakukan oleh lebih satu orang secara bersama-sama," jelas Dede memastikan, agenda sidang selanjutnya berupa pembelaan terdakwa (Pledoi) dan putusan majelis hakim pengadilan setempat.

(bangkapos.com/ferylaskari)

Penulis: ferylaskari
Editor: Evan
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved