Antisipasi Demo Nelayan, Petugas Langsung Tutup Tambang Kuala Mapur

Sudah berbulan-bulan kawasan hutan mangrove di Suara Kuala Mapur Kecamatan Riausilip dirambah tambang timah ilegal (TI)

Antisipasi Demo Nelayan, Petugas Langsung Tutup Tambang Kuala Mapur
istimewa
Tim Gabungan Pol PP Bangka, Polsek Riasuilip dan Kasi Transtip Kecamatan Riausilip, Jumat (4/10/2019) meninjau Kuala Mapur dan dipastikan penambang ilegal telah hengkang sebelum aksi nelayan terjadi. 

Antisipasi Demo Nelayan, Petugas Langsung Tutup Tambang Kuala Mapur

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Sudah berbulan-bulan kawasan hutan mangrove di Suara Kuala Mapur Kecamatan Riausilip dirambah tambang timah ilegal (TI). Hingga akhirnya muncul kabar, kelompok nelayan gabungan kembali bakal beraksi menggelar demo mengusir penambang.

Namun untungnya, rencana demo nelayan diketahui oleh aparat penegak hukum yang kemudian langsung menghentikan aktivitas tambang tersebut, sebelum nelayan bertindak anarkis.

Tim meminta penambang angkat kaki dari lokasi yang dimaksud agar tidak terjadi bentrok dengan kelompok nelayan. Apalagi berhembus kabar, rencana demo rencananya digelar besok, Sabtu (5/10/2019).

Kepala Kantor Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Bangka, Dalyan Amrie diwakili Kabid Perundang-Undangan, Achamd Suherman, Jumat (4/10/2019) dikonfirmasi soal kabar rencana demo nelayan, tak menyangkalnya. Namun dipastikan Suherman, tambang ilegal yang dimaksud telah lebih dulu mereka tertibkan bersama Pihak Polsek Riasuilip dan Pihak Kecamatan Riausilip, agar para nelayan tak bertindak anarkis.

"Antisipasi jangan sampai masyarakat nelayan demo anarkis," kata Suherman.

Oleh karenanya, tim gabungan terdiri Satpol PP Bangka, Polsek Riausilip dan Kasi Transtip Kecamatan Riausilip langsung mendatangi lokasi alur muara itu. "Sehari sebelumnya, Kamis (3/10/2019) Polsek Riausilip, Kasi Transtip Riausilip dan Pol PP Bangka sudah menghentikan penambangan di alur Muara Kuala Mapur," katanya.

Bahkan pada hari ini, Jumat (4/10/2019) Pol PP Bangka kembali mendatangi lokasi tersebut untuk memastikan apakah masih ada penambang yang membandel atau tidak. Penghentian aktifitas tambang tersebut tak hanya karena status aktifitasnya ilegal, namun karena adanya aksi protes para nelayan.

"Hari ini, Jumat (4/10)2019), kami memantau lagi, dan ternyata sudah dibongkar TI-nya. Kami pastikan Polsek dan Pol PP akan tetap mengawasi," tegas Suherman.

(ferylaskari).

Penulis: ferylaskari
Editor: Evan
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved