Advertorial

Cegah dan Atasi Stunting Balita Melalui ASI dan MP ASI

Cegah dan Atasi Stunting Balita Melalui ASI dan MP ASI Oleh : Erna Julianti dan Elni (Dosen Akademi Keperawatan Pangkalpinang)

Cegah dan Atasi Stunting Balita Melalui ASI dan MP ASI
ist/Akademi Keperawatan Pangkalpinang
Cegah dan Atasi Stunting Balita Melalui ASI dan MP ASI Oleh : Erna Julianti dan Elni (Dosen Akademi Keperawatan Pangkalpinang) 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Stunting menjadi satu diantara masalah gizi yang prioritas di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Hal ini didukung oleh data Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang menunjukkan bahwa prevalensi anak stunting tahun 2016 sebesar 21,9% mengalami peningkatan pada tahun 2017 sebesar 27,3%.

Sedangkan data Riskesdas 2018 menunjukkan bahwa prevalensi balita stunting di Indonesia tahun 2018 sebesar 30,8%. 

Stunting dapat menimbulkan dampak jangka pendek dan jangka penjang. Menurut Kemenkes (2016) bahwa stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita di bawah lima tahun akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya.

Balita pendek (stunted) dan sangat pendek (severely stunted) adalah balita dengan panjang badan (PB/U) atau tinggi badan (TB/U) menurut umurnya dibandingkan dengan standar baku WHO-MGRS (Multicentre Growth Reference Study) 2006. Nilai z-scorenya kurang dari -2 SD (standar deviasi) disebut pendek (stunted), sedangkan nilai z-scorenya kurang dari - 3SD disebut sangat pendek (severely stunted).

Dampak jangka pendek stunting antara lain terganggunya perkembangan otak, kecerdasan, gangguan pertumbuhan fisik dan gangguan metabolisme dalam tubuh. Selain itu, dampak jangka panjang stunting yaitu gangguan pada produktivitas ekonomi, gangguan interaksi sosial, gangguan kognitif serta penyakit tidak menular.

Melihat tingginya angka kejadian stunting serta besarnya dampak yang ditimbulkan maka diperlukan upaya penanganan yang menyeluruh dengan melibatkan lintas sektoral terkait. Satu diantara upaya penanganan yang telah berhasil dilakukan adalah dengan mengendalikan faktor-faktor penyebab stunting.

Penelitian yang sudah dilakukan oleh Dosen Akper Pangkalpinang, Erna Julianti dan Elni dengan judul faktor determina kejadian stunting pada balita usia 12- 59 bulan di Kota Pangkalpinang menunjukkan bahwa ASI eksklusif, riwayat infeksi dan kebiasaan makan anak menjadi faktor determina kejadian stunting balita di Kota Pangkalpinang dengan jumlah responden sebanyak 205 balita.

Pemberian ASI secara eksklusif dapat mencegah anak berisiko terinfeksi penyakit dan mengalami malnutrisi. Anak yang mendapat ASI eksklusif akan memiliki berat badan serta tinggi badan yang lebih baik dibandingkan anak yang tidak mendapat ASI eksklusif.

Durasi atau lamanya pemberian ASI setiap pemberian ASI menjadi salah satu faktor risiko timbulnya stunting karena kurangnya pemenuhan nutrien vital untuk pertumbuhan pada anak. Hal ini disebabkan karena ASI mengandung nutrien dan faktor bioaktif yang dapat mencegah infeksi dan peradangan serta menunjang kekebalan tubuh dan maturitas organ tubuh.

Halaman
12
Editor: Ardhina Trisila Sakti
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved