Berita Bangka Selatan

Delapan Desa di Bangka Selatan Masih Alami Stunting, Nilai Prevalensinya Capai 48,8%

Permasalahan stunting hingga saat ini masih menjadi sebuah masalah gizi yang diprioritaskan untuk diselesaikan di Kabupaten Bangka Selatan.

Delapan Desa di Bangka Selatan Masih Alami Stunting, Nilai Prevalensinya Capai 48,8%
bangkapos.com/Jhoni Kurniawan
Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Pendudukan dan Keluarga Berencana Bangka Selatan, Supriyadi 

BANGKAPOS.COM, BANGKA  - Permasalahan stunting hingga saat ini masih menjadi sebuah masalah gizi yang diprioritaskan untuk diselesaikan di Kabupaten Bangka Selatan.

Meskipun berdasarkan data prevalensi stunting menurut desa/kelurahan dalam kecamatan yang diedarkan pada Februari 2019 menggambarkan jika Kabupaten Bangka Selatan aman dari stunting karena berhasil bertengger di angka 12,9%.

Meski Kabupaten Bangka Selatan berada di posisi yang aman tetapi permasalahan stunting ketika dikerucutkan ke desa-desa maka akan terlihat jika di beberapa desa di Bangka Selatan masih ada yang mengalami stunting, bahkan besaran prevalensinya bisa mencapai angka 49%.

Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Pendudukan dan Keluarga Berencana Bangka Selatan, Supriyadi menyatakan meskipun secara penilaian Kabupaten Bangka Selatan aman, namun ada sekitar delapan desa yang masih mengalami kasus stunting yang cukup berbahaya.

"Delapan desa itu yakni Desa Tepus, Sidoharjo, Pongok, Payung, Serdang, Jelutung II, Gudang dan Sebagin," beber Supriyadi kepada bangkapos.com pada Rabu, (9/10/2019).

Dari delapan desa yang telah disebutkan Supriyadi, Desa Sidoharjo merupakan desa yang kasus stuntingnya paling berbahaya yang mencapai angka prevalensi 48,8% diikuti Desa Tepus yang mencapai angka prevalensi 43,8%.

Supriyadi menyebutkan bahwa stunting merupakan sebuah kondisi dimana tubuh anak-anak balita kekurangan gizi sehingga anak bersangkutan akan mengalami kondisi tubuh yang pendek.

Selain mengalami kondisi tubuh yang pendek dan tidak sesuai, stunting juga dapat menyebabkan terganggunya perkembangan otak, kecerdasan, gangguan pertumbuhan fisik dan gangguan metabolisme dalam tubuh.

"Ada lagi dampak lainnya seperti gangguan interaksi sosial, gangguan kognitif serta penyakit tidak menular yang dirasakan oleh balita yang alami stunting," tandasnya

(bangkapos.com/Jhoni Kurniawan)

Penulis: Jhoni Kurniawan
Editor: Ardhina Trisila Sakti
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved