Berita Pangkalpinang

Waspada, Pemakai Sabu Merusak Sel Saraf, Ini Penjelasan Dokter

Dokter umum Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Depati Hamzah dr Annisa Rahmayuni mengatakan pemakaian sabu dalam jangka panjang akan merusak sel saraf

Waspada, Pemakai Sabu Merusak Sel Saraf, Ini Penjelasan Dokter
Bangkapos.com/Cici Nasya Nita
Dokter umum Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Depati Hamzah dr Annisa Rahmayuni 

BANGKAPOS.COM, BANGKA-- Dokter umum Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Depati Hamzah dr Annisa Rahmayuni mengatakan pemakaian sabu dalam jangka panjang akan merusak sel saraf, dan membutuhkan waktu lama untuk pulih.

"Dampak jangka panjang bisa merusak sel saraf dalam otak, merusak sistem dopamin, yang nantinya akan menurunkan kemampuan untuk merasakan sensasi apapun. Efek ini biasa disebut juga anhedonia, yang dapat menyebabkan kehilangan minat, gangguan depresi, paranoid, gangguan kecemasan, perubahan suasana hati, dan hingga halusinasi. Pemakaian dengan jumlah yang berlebihan juga dapat membahayakan tubuh hingga menyebabkan kematian. Efek sabu pada kesehatan tubuh dalam sistem kerja otak juga akan membutuhkan waktu lama untuk pulih walaupun pemakaian dihentikan," jelas dr Annisa saat ditemui bangkapos.com. Selasa, (15/10/2019).

Annisa mengatakan, sabu lebih diminati karena mudah dinikmati, bisa dimakan atau dihisap dengan alat khusus. Menurut data BNN sabu memang jenis narkoba yang paling banyak dipakai oleh masyarakat indonesia.

"Sabu mengandung methempethamine, senyawa yang mirip dengan amphetamin, merupakan narkoba jenis stimulan, yang dapat menstimulasi kerja otak. Dampak memakai ini bagi tubuh bisa menyebabkan hipertermia, dehidrasi, dan menyebakan pemakainya tidak merasa lapar sehingga pemakainya akan mengalami gangguan pola makan," jelas Annisa.

Ia juga menjelaskan saat dipakai, sabu hanya butuh waktu 4 hingga 12 jam untuk memberikan pemakainya merasa euforia, perasaan senang, dan bahagia yang berlebihan.

"Cara menghentikan pecandu sabu dengan membawa si pemakai ke dokter. Nanti ada proses pemeriksaan oleh dokter. Kemudian pemakai akan dilakukan tahap detoksifikasi, yaitu penghentian pemakaian sabu. Kemudian diikuti tahap stabilisasi yaitu pemberian terapi oleh dokter untuk menstabilkan kondisi si pemakai," terang Annisa. (Bangkapos.com/Cr2)

Penulis: Maggang (mg)
Editor: nurhayati
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved