Info Kesehatan

Kenali Gastroesophageal ­Reflux Disease (GERD) dan Cara Pengobatannya

gastroesophageal reflux disease / GERD adalah suatu penyakit yang terjadi akibat kembalinya isi lambung ke dalam kerongkongan (esofagus)

Kenali Gastroesophageal ­Reflux Disease (GERD) dan Cara Pengobatannya - gerd.jpg
ist/GERD
Dr.Denny Moniaga, SpPD dari RS.Siloam Bangka mendefinisikan penyakit refluks gastroesofageal (gastroesophageal reflux disease / GERD) adalah suatu penyakit yang terjadi akibat kembalinya isi lambung ke dalam kerongkongan (esofagus)
Kenali Gastroesophageal ­Reflux Disease (GERD) dan Cara Pengobatannya - gastroesophageal-reflux-disease.jpg
ist/Gastroesophageal ­Reflux DiseaseGastroesophageal ­Reflux Disease
refluks gastroesofageal (gastroesophageal reflux disease / GERD) adalah suatu penyakit yang terjadi akibat kembalinya isi lambung ke dalam kerongkongan (esofagus)

Dr.Denny Moniaga, SpPD dari RS.Siloam Bangka mendefinisikan penyakit refluks gastroesofageal (gastroesophageal reflux disease / GERD) adalah suatu penyakit yang terjadi akibat kembalinya isi lambung ke dalam kerongkongan (esofagus).

Jika dibiarkan penyakit ini dapat menyebabkan peradangan pada kerongkongan (esofagitis), penyempitan kerongkongan yang menyebabkan makanan tidak bisa masuk (striktur esofagus), hingga kanker esofagus, sehingga penanganan sejak awal adalah suatu hal yang penting.

Esofagus dan lambung dipisahkan dengan suatu struktur yang berfungsi sebagai katup atau pintu yang dinamakan sfingter esofagus bagian bawah.

Kembalinya isi lambung dapat terjadi melalui 3 mekanisme yaitu melemahnya kemampuan sfingter untuk menutup, isi lambung terlalu banyak sehingga sebelum sfingter menutup isi lambung sudah kembali ke atas, serta meningkatnya tekanan di dalam rongga perut.

Berbeda dengan lambung, esofagus tidak memiliki lapisan cairan dinding yang melindungi dari iritasi, sehingga dinding esofagus jauh lebih mudah terjadi peradangan dibanding dinding lambung.

Dr.Denny Moniaga, SpPD menambahkan, faktor lain yang turut berperan dalam meningkatnya kejadian GERD adalah kelainan di lambung, antara lain adanya perlambatan pengosongan lambung yang membuat makanan lebih lama berada di dalam lambung sehingga meningkatkan resiko kembalinya isi lambung ke kerongkongan.

Menurut dr.Denny Moniaga, SpPD, gejala yang khas dari GERD adalah rasa tidak nyaman pada ulu hati atau di belakang dada. Rasa tidak nyaman biasanya dideskripsikan sebagai rasa terbakar atau panas di belakang dada, kadang disertai dengan gejala sulit menelan, mual, dan rasa pahit di lidah. Kadang – kadang rasa tidak nyaman di belakang dada mirip dengan gejala yang timbul pada penyakit jantung, sehingga banyak pasien yang datang karena takut bermasalah dengan jantungnya.

Penyakit ini juga dapat menimbulkan gejala nyeri dada, suara serak, radang tenggorokan, rasa mengganjal di leher, batuk, sesak napas, serta berdebar – debar.

Diagnosis GERD didapatkan dari gejala yang dirasakan pasien, serta untuk memastikan dilakukan endoskopi untuk melihat adanya aliran balik dari lambung ke kerongkongan serta melihat derajat keparahan iritasi pada kerongkongan.

Pengobatan awal pada pasien serta pada pasien yang belum mau dilakukan tindakan endoskopi diberikan obat penurun produksi asam lambung selama 2 minggu, jika membaik dapat dilanjutkan sampai 2 bulan, bahkan jika derajat penyakitnya berat bisa sampai 4 bulan minum obat.

Dr.Denny Moniaga, SpPD menyarankan untuk mencegah dan meringankan gejala GERD dapat dilakukan dengan meninggikan posisi kepala saat tidur, tidak langsung berbaring setelah makan, serta hindari makan berlebihan sampai sangat kenyang.

Sebagai kesimpulan, penyakit ini sebaiknya tidak dianggap enteng karena dapat menyebabkan penyepitan saluran kerongkongan (striktur esofagus) sehingga makanan tidak bisa lewat dan kanker esofagus. (*/Adv)

Penulis: iklan bangkapos
Editor: khamelia
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved