Berita Sungailiat

Kisah Dibalik Bubur Cetot Sagu Rumbia, Bubuk Sagu Diolah Warga Sendiri Langsung di Pohon

Bubur cetot, atau cendol sagu rumbia memiliki rasa yang khas, dan unik dibandingkan bubur cendol biasa.

Kisah Dibalik Bubur Cetot Sagu Rumbia, Bubuk Sagu Diolah Warga Sendiri Langsung di Pohon
(bangkapos.com/Cici Nasya Nita).
Bubur cetot atau cendol sagu rumbia. Kamis, (17/10/2019) 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Bubur cetot, atau cendol sagu rumbia memiliki rasa yang khas, dan unik dibandingkan bubur cendol biasa.

Hal tersebut dikarenakan bubur cetot ini menggunakan bahan utama sagu dari pohon rumbia

Pohon rumbia ini bernama ilmiah Metroxylon sagu, berdiameter besar, batang berwarna cokelat, dan daun hijau. Habitat tumbuh biasa di rawa-rawa.

Pengolahan pembuatan sagu rumbia ini biasanya dilakukan masyarakat pedesaan secara bergotong royong.

Mini, warga Desa Sempan Kecamatan Pemali Kabupaten Bangka yang biasa mengolah sagu rumbia menceritakan proses pembuatan sagu rumbia yang dilakukan langsung di pohon.

"Kalau mau buat sagu rumbia kita biasanya ngajak banyak orang, baru nanti batang ditebang. Satu batang itu bisa 10 orang nanti. Setelah ditebang kita kupas kulit batang, cacah dengan parang terus kita tumbuk bersama-sama langsung disitulah," ungkap Mini kepada bangkapos.com. Kamis, (17/10/2019).

Mini juga melanjutkan proses pembuatan ini juga berlangsung di rumah warga masing-masing.

"Setelah kita tumbuk ramai-ramai kita isi dikarung kemudian kita bawa pulang. Dirumah diperes, dan disaring bagian yang sudah ditumbuk tadi. Nanti bagian yang sudah halus tersebut kita jemur akan menyerupai bubuk. Sagu rumbia ini berbeda dengan sagu biasa sebab warnanya merah," ungkap Mini.

Dia juga menjelaskan warna sagu rumbia dipengaruhi oleh bagian batang. Apabila batang agak kearah pucuk warna bubuk sagu memang cenderung merah, sedangkan yang bagian batang bawah agak putih.

"Sekarang sudah jarang orang menyagu, ini bubur cetot yang saya buat ini sisa saya sagu yang kami olah 3 tahun yang lalu, tahan lama," ungkapnya.

Mini mengatakan sekarang warga lebih suka sesuatu yang praktis, dan batang pohon rumbia sering dijual kepada pabrik. Harga satu batang pohon rumbia bisa Rp 25 ribu - Rp 40 ribu sesuai ukuran batang.

"Sagu rumbia ini enak kalau untuk buat kue rintak sagu, kritek, dan bubur cetot. Kalau sagu biasa dia kenyal, dan lengket kalau sagu rumbia ini tidak. Daun pohon rumbia biasa juga untuk atap rumah. Sedangkan bekas batang yang ditebang akan hidup ulat temater biasa untuk umpan mancing," ungkapnya.

Bangkapos.com/Cici Nasya Nita

Penulis: Maggang (mg)
Editor: khamelia
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved