Berita Pangkalpinang

Suhamdani Ajarkan Rukyah Diri Bagi Penyandang Disabilitas Mental

Uniknya guru pembimbing kerohanian di UILS Pangkalpinang yang juga merupakan penyandang disabilitas tuna netra, yakni Ustadz Suhamdani.

Suhamdani Ajarkan Rukyah Diri Bagi Penyandang Disabilitas Mental
Bangkapos.com/Edwardi
Ustadz Suhamdani, guru pembimbing rohani PDM di UILS Pangkalpinang 

BANGKAPOS.COM,BANGKA-- Para Penyandang Disabilitas Mental (PDM) di Kota Pangkalpinang rutin mengikuti berbagai kegiatan yang dilaksanakan Unit Informasi Layanan Sosial (UILS) Pangkalpinang di Jalan RE Martadinata Kelurahan Rejosari Kecamatan Pangkalbalam (sebelah MIN) Kota Pangkalpinang, setiap hari Senin hingga Jumat yang dibuka Dinas Sosial (Dinsos) Provinsi Kepulauan  Bangka Belitung (Babel) bekerjasama dengan Dinsos Kota Pangkalpinang.

Di UILS Pangkalpinang ini para PDM diberikan berbagai pelajaran dan ketrampilan, seperti olahraga, kerajinan membuat keset kaki, sarung telur Serujo, aroma terapi, aneka bunga plastik, serta bimbingan rohani.

Uniknya guru pembimbing kerohanian di UILS Pangkalpinang yang juga merupakan penyandang disabilitas tuna netra, yakni Ustadz Suhamdani, lulusan Ponpes Gontor.

"Kerohanian ini bisa dalam rangka memberikan motivasi kepada teman-teman PDM , memberikan ilmu tentang akidah, bagaimana caranya agar mereka bisa menerima kondisinya ini dengan baik dan kita mengajarkan metode-metode itu dengan kembali kepada Tuhan," jelas Suhamdani, Ketua Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni) Babel.

Menurutnya, ketika jiwa kerohanian PDM ini baik maka fisik dan akalnya juga akan baik, sehingga digunakan metode tersebut untuk memperbaiki jiwanya.

"Kalau secara medis mengunakan obat-obatan, tapi kita mencoba memperbaiki hati dan pikirannya, bagaimana cara menerima kehidupan itu seperti apa," kata Suhamdani yang mengalami kebutaan karena penyakit glukoma saat masih menuntut ilmu di Ponpes Gontor.

Diungkapkannya, kalau melihat sejarah hidup para penderita PDM ini kebanyakan karena faktor masalah kehidupan yang dialami sebelumnya.

Saat melakukan terapi kepada para PDM ini juga digunakan metode rukyah diri atau berdoa meminta kesembuhan.

"Jadi dalam rukyah diri ini bukan berarti karena ada gangguan jin atau makhluk halus lainnya. Karena Al Qur'an itu diturunkan sebagai penyembuh bagi orang-orang mukmin, jadi kita menggunakan metode-metode seperti itu," jelasnya.

Menurutnya, dalam metode ini para PDM merukyah diri mereka sendiri ketika mereka bermasalah dalam pikirannya, ada bisikan-bisikan maka cara menenangkan dirinya dengan ayat-ayat Allah.

"Alhamdulillah selama beberapa kali pertemuan ini metode ini sudah kita praktekkan kepada teman-teman PDM ini. Alhamdulillah mereka merasa senang dan tenang, damai, memang ada juga peserta yang mengalami pusing, muntah, dadanya terasa panas dan sebagaimana memang ada reaksinya seperti itu," ungkap Suhamdani.

Intinya melalui metode ini ingin mengajak para PDM, ini agar bisa menenangkan jiwa dengan Al Qur'an.

"Memang ini sebenarnya belum sampai kepada cara rukyah yang sebenarnya, cuma kita ingin agar teman-teman ini ketika punya masalah mereka mendekatkan diri kepada Allah dengan cara memperbanyak ibadah, membaca Al Qur'an, dan berdoa kepada Allah," kata Suhamdani. (Bangkapos.com/Edwardi)

Penulis: edwardi
Editor: nurhayati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved