Berita Sungailiat

Harga Ubi Kasesa Anjlok Lagi Saat Petani Lokal Panen Raya, Diduga Ada Pasokan Vietnam dan Thailand

Harga komoditas ubi kasesa atau yang biasa disebut ubi racun, perlahan mulai turun. Bulan lalu harganya berkisar Rp 1.200 per kilogram

Harga Ubi Kasesa Anjlok Lagi Saat Petani Lokal Panen Raya, Diduga Ada Pasokan Vietnam dan Thailand
Bangkapos.com/Muhammad Nordin
Ubi racun (kasesa) yang selesai di panen petani untuk diangkut ke pabrik 

BANGKAPOS.COM, BANGKA-- Harga komoditas ubi kasesa atau yang biasa disebut ubi racun, perlahan mulai turun. Bulan lalu harganya berkisar Rp 1.200 per kilogram, sedangkan bulan ini bertengger pada level Rp 1.050 perkg hingga Rp 1.100 per kilogram.

Diduga penyebabnya, selain karena pasokan lokal melimpah,  pengaruh global, masuknya ubi kasesa dari Negara Vietnam dan Thailand ke Indonesia.

Camat Puding Besar, Ismir R dikonfirmasi bangkapos, Senin (21/10/2019) mengakui penurunan harga jual ubi kasesa di tingkat petani, khususnya di wilayah Kecamatan Puding Besar Kabupaten Bangka. Informasi penurunan harga didapat Ismir dari informasi para petani di wilayah kerjanya.

"Turun, kalau di Pabrik PT SBP harga 1.100 perkg. Sedangkan di Pabrik PT BAA Kenanga 1.050 perkg. Sedangkan bulan kemarin (sebelumnya) kisaran harga sekitar 1.200 perkg," kata Ismir mengutip informasi yang ia dapatkan dari para petani ubi kasesa di Kecamatan Puding Besar Bangka.

Petani ubi  saat panen ubi kasesa.
Petani ubi saat panen ubi kasesa. (Dok/Bangkapos.com)

Namun secara pasti, Ismir tak berani menyebutkan apa penyebab turunnya harga jual ubi kasesa di Kecamatan Puding Besar dan sekitarnya. Hanya saja ia sempat mendengar informasi tentang masuknya pasokan ubi kasesa dalam jumlah relatif besar dari negara asing ke Indonesia.

"Katanya sih masuk pasokan ubi dari Vietnam dan Thailand ke Indonesia. Selain itu sekarang bisa dikatakan banyak masyarakat atau petani lokal sedang panen raya (sehingga pasokan melimpah -red) dan banyak ngantri masuk pabrik karena kapasitas pabrik dibatasi untuk produksi (pengolahan)," ungkap Ismir.

Apalagi kata Ismir, informasi yang ia dapat menyebutkan, sejumlah pabrik pengolahan ubi kasesa di Bangka tak dapat beroperasi optimal karena kondisi musim kemarau. "Karena musim kemarau suplai air untuk pengolahan di pabrik minim. Belum lagi kendala ada mesin pabrik yang dimaintenance (perawatan), kalau tidak salah," jelas  Ismir.

Ia berharap harga ubi kasesa kembali membaik seperti semula, sebab stabilnya harga ubi kasesa akan menguntungkan petani lokal. Ismir juga berharap jumlah pasokan ubi dari petani, perharinya bisa diterima pabrik dalam jumlah lebih besar.

"Sehingga warga kami yang ngantri tidak sampai menginap di pabrik ataupun pulang untuk ngantri lagi besok harinya. Karena jika antri panjang, bisa nambah biaya lagi untuk kendaraan angkutnya. Kemudian harapan saya supaya harga bisa naik agar ekonomi masyarakat terbantu, karena masyarakat banyak ikut program nanam ubi," harap Ismir. (Bangkapos.com/Fery Laskari)

Penulis: ferylaskari
Editor: nurhayati
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved