VIDEO: Kolong Bekas Tambang Timah Bisa Dimanfaatkan Untuk Budidaya Ikan

Dinas Perikanan Kabupaten Bangka Tengah (Bateng) Provinsi Kep. Bangka Belitung menggelar pelatihan pemanfaatan kolong bekas penambangan timah

BANGKAPOS.COM,BANGKA-- Dinas Perikanan Kabupaten Bangka Tengah (Bateng) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menggelar pelatihan pemanfaatan kolong bekas penambangan timah untuk budidaya perikanan sistem keramba jaring apung (KJA) di Pokdakan Akasia Permai Desa Kebintik Kecamatan Pangkalan Baru (belakang Kompleks Perkantoran Gubernur Babel), Kamis (23/10/2019).

Dalam kegiatan ini juga dilakukan penyerahan secara simbolis dua unit KJA konstruksi baja ringan bantuan APBD Bateng kepada Pokdakan Akasia Permai Desa Kebintik dan Pokdakan Dam Jebol Desa Sampur.

Kepala Dinas Perikanan Bateng, Dedy Muchdiyat mengatakan kegiatan ini dilakukan dalam upaya pengembangan pengikanan budidaya dengan memanfaatkan potensi alam yang ada, khususnya kolong eks penambangan timah.

"Kita berharap kolong-kolong eks penambangan timah yang tadinya tidak produktif menjadi produktif dengan budidaya ikan. Karena kolong-kolong ini cukup dalam sehingga digunakan sistem keramba jaring apung (KJA)," kata Dedy.

Dedy berharap masyarakat yang tergabung dalam Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) yang mengelola KJA ini memiliki niat dan semangat yang tulus dan kuat untuk berusaha di bidang budidaya ikan ini sehingga berhasil dan menguntungkan ke depannya.

"Insyaallah kalau niat tulus bisa berhasil, keuntungan sistem ini pertumbuhan ikan lebih cepat, waktu pemeliharaan lebih cepat sehingga mengurangi biaya produksi, karena 60-70 persen biaya produksi ikan itu dari pakannya," jelas Dedy.

Ditambahkannya, sejumlah pokdakan saat ini sudah bisa membuat pakan ikan mandiri dengan biaya Rp 7.000-8.000 per kg dengan kadar protein mencapai 41-42 persen. Sementara saat ini harga pakan ikan pabrik mencapai Rp 12.000-13.000 per kg dengan kadar protein 31-32 persen.

"Tadi kita dengar testimoni ketua Pokdakan Akasia Permai untuk ikan lele itu mereka bisa panen dalam waktu 51 hari saja, berarti daya dukung lahannya bagus dan pemberian pakannya juga bagus sehingga bisa panen hanya dalam 51 hari. Kita berharap ke depan kegiatan ini bisa dijadikan contoh bagi pokdakan-pokdakan lainnya," tukasnya

Sementara Akho, Ketua Pokdakan Akasia Permai mengaku sebelumnya kolong ini digunakan untuk lokasi kolam pemancingan ikan, namun setelah operasi cukup lama dirasakan tidak memberikan keuntungan.

"Akhirnya kolong ini saya keringkan lalu banting stir ke usaha budidaya pembesaran ikan, seperti nila, patin, gurame, mas kolam, koi, betutu," kata Akho.

Ditambahkannya, usaha budidaya ikan ini harus ditekuni secara sungguh-sungguh dan dijadikan pekerjaan utama sehingga bisa berhasil.

"Bila usaha budidaya ikan ini hanya sebagai usaha sampingan maka hasil yang didapatkan juga akan sekedarnya, karena itu harus dilakukan dengan kesungguhan," imbuhnya. (Bangkapos.com/Edwardi)

Penulis: edwardi
Editor: nurhayati
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved