Berita Pangkalpinang

Ini Analisis Dosen Teknik UBB Mengenai Banjir di Pangkalpinang

Kota Pangkalpinang sering terjadi banjir sebab daerah Pangkalpinang itu cekungan, banyak lahan yang berubah fungsi

Ini Analisis Dosen Teknik UBB Mengenai Banjir di Pangkalpinang
Bangkapos.com/Cici Nasya Nita
Fadillah Sabri Dosen Teknik Sipil Universitas Bangka Belitung serta Kepala BPH STKIP Muhammadiyah Bangka Belitung 

Kota Pangkalpinang sering terjadi banjir sebab daerah Pangkalpinang itu cekungan, banyak lahan yang berubah fungsi, dibuktikan dengan banyak pembangunan, dan saluran drainase yang tidak sesuai 

BANGKAPOS.COM, BANGKA-- Hujan kemarin (Senin, 4/11/2019) mengakibatkan beberapa wilayah di kota Pangkalpinang tergenang air.

Fadillah Sabri Dosen Teknik Sipil Universitas Bangka Belitung (UBB) serta Kepala BPH STKIP Muhammadiyah Bangka Belitung menjelaskan air mengenang tersebut bukan banjir melainkan air lewat.

"Secara hidrologi itu bukan banjir. Definisi banjir ada hubungan dengan meluapnya sungai. Debit sungai yang melampaui batas normal maka meluap dan menimbulkan genangan dalam waktu tertentu. Kalau yang kemarin itu air lewat buktinya kolong retensi masih aman, kemarin itu genangan sesaat atau ada juga orang biasa bilang banjir sesaat," jelasnya saat ditemui Bangkapos.com. Selasa, (5/11/2019).

Dia menjelaskan, Kota Pangkalpinang sering terjadi banjir sebab daerah Pangkalpinang itu cekungan, banyak lahan yang berubah fungsi, dibuktikan dengan banyak pembangunan, dan saluran drainase yang tidak sesuai atau tersumbat.

"Faktor yang paling berpengaruh itu lahan yang berubah fungsi karena banyak pembangunan, dan perumahan sehingga area resapan berkurang. Otomatis akan meluap karena memang itu arah jalan air. Kota Pangkalpinang memang seperti itu sekarang memang lebih parah," jelasnya.

Banjir di Kelurahan Bukit Sari, Senin (4/11/2019)
Banjir di Kelurahan Bukit Sari, Senin (4/11/2019) (Bangkapos/irakurniati)

Dia mengatakan memang sudah terjadi perbesaran saluran drainase di beberapa titik kota Pangkalpinang, akan tetapi sungai tidak diperdalam dan diperlebar.

Dengan demikian, kondisi itu tidak menyelesaikan permasalahan selama lahan-lahan yang semestinya tutupan menjadi terbuka tanpa ada menahan air, maka akan menjadi lintasan lalu air.

"Pangkalpinang dialiri Sungai Rangkui, sumber tiga sub DAS yakni DAS Rangkui, Pedindang, dan Pusuk. Cara solusinya perbanyak kolong retensi agar dapat menampung, batasi perumahan, atau setiap membangun perumahan wajib membangun sumur resapan, agar air tidak melintas. Rumusnya kan tahan, hambat, dan resap," kata Fadillah.

Solusinya juga lakukan revitalisasi Kolong Kacang Pedang sesuai dengan rencana awal, pemeritah turut serta mengatasi hal ini, dan para masyarakat paham akan situasi sehingga dapat beradaptasi.

"Permasalahan ini biasanya bagi yang rumahnya dekat dengan sungai, kalau tidak kan tidak ada yang teriak banjir. Seharusnya masyarakat lebih paham buat rumah jauh dari sungai, atau buat rumah panggung kalau dekat dengan sungai sehingga bila hujan melanda seperti ini air mengenang tidak sampai ke rumah," saran Fadillah.

(Bangkapos.com/Cici Nasya Nita)

Penulis: Cici Nasya Nita
Editor: nurhayati
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved