Berita Pangkalpinang

Martak Pengepul Lada Sebut Resi Gudang Masih Kurang Sosialisasi

Menurut Martak sosialisasi pemerintah terkait ini masih sangat kurang.

Martak Pengepul Lada Sebut Resi Gudang Masih Kurang Sosialisasi
bangkapos.com/ DEDY QURNIAWAN
Haji Martak (kaus Polo putih) pada rapat koordinasi Resi Gudang di ruang Tanjungpesona, Kantor Gubernur, Selasa (5/11/2019). 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Sejak pemerintah mengeluarkan program Resi Gudang untuk membantu petani Lada, para petani dan pengumpul lada jadi kerap datang ke Kantor Gubernur. Selasa (5/11/2019). Misalnya, Haji Martak pengumpul Lada dari Simpangkatis juga hadir.

Di dalam rapat itu, Martak banyak menekuk dagunya menggunakan tangan selama rapat koordinasi resi gudang itu berlangsung di ruang Tanjungpesona, Kantor Gubernur,

Menurut Martak sosialisasi pemerintah terkait ini masih sangat kurang. Martak yang sejak 1979 menjadi pengumpul lada petani tak pernah tahu di mana letak resi gudang.

Ditemui seusai rapat, Martak mengatakan pemerintah harus turun hingga ke desa-desa agar sampai ke masyarakat.

"Kalau tidak turun masyarakat tidak tahu. Cuma sekadar rapat-rapat begitu. Pemerintah harus turun ke desa-desa itu lebih bagus. Kalau seperti ini yang tahu hanya yang diundang," kata Martak.

Sebagian besar masyarakat juga tak pernah tahu bagaimana sistem resi gudang. Selama ini, Martak menyimpan sendiri Lada miliknya.

"Saya pernah menyimpan lada dari tahun 1997-2017. Kami simpan sendiri-sendiri," katanya.

Menurutnya, akan lebih baik jika pemerintah sosialisasi hingga ke masyarakat. Petani yang bisa mendapatkan pinjaman untuk modal selagi menunggu harga Lada lebih baik seperti yang ditawarkan resi gudang bisa menjadi nilai plus.

"Jadi Pak Tani kalau pinjam uang, enak," katanya.

Terkait harga, harga Lada saat ini Rp 41.500 per kilogram. Seorang petani harus mengeluarkan modal Rp 45 ribu per batang dengan junjung murah seharga Rp 15 ribu per batang.

Kata Martak, petani baru bisa untung jika harga Lada minimal Rp 80 ribu per kilogram. Beberapa petani, meskipun tidak mengeluruh, juga sudah mulai menerapkan junjung hidup.

"Soal mutu, petani tergantung harga. Kalau harga tinggi mutunya tinggi, kalau rendah ya mutu rendah. Misalnya, harga Lada hitam itu Rp40 ribu, harga Lada putih itu Rp80 ribu, ya petani pilih Lada putih," ucap Martak.

(bangkapos.com /Dedy Qurniawan)

)

Penulis: Dedi Qurniawan
Editor: Ardhina Trisila Sakti
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved