Berita Pangkalpinang

Diskusi Tiga Jam Wali Kota Bersama Lurah dan Camat Atasi Permasalahan Banjir

Wali kota Pangkalpinang, Maulan Aklil mengatakan, dalam waktu dekat akan melakukan penggalian atau pengerukan kawasan yang mengalami sedimentasi

Diskusi Tiga Jam Wali Kota Bersama Lurah dan Camat Atasi Permasalahan Banjir
Bangkapos/irakurniati
Rapat membahas penanganan banjir di balai kelurahan Bukit Sari, Rabu (6/11/2019) 

BANGKAPOS.COM - Sekitar tiga jam berdiskusi mendengarkan dan membahas permasalahan banjir di wilayah Pangkalpinang, pemerintah kota Pangkalpinang menangani permasalahan ini dengan membaginya dalam tiga skema yakni sebelum kejadian, sewaktu dan sesudahnya. Rapat yang diikuti seluruh lurah dan camat ini menyampaikan laporan daerah rawan banjir kepada wali kota bersama jajarannya.

Wali kota Pangkalpinang, Maulan Aklil (Molen), mengatakan, dalam waktu dekat akan melakukan penggalian atau pengerukan kawasan yang mengalami sedimentasi. Kemudian memperbaiki talud-talud yang telah lama tidak dibenahi, membuat biopori sebagai resapan air dan gotong royong membersihkan sampah terutama yang menyumbat saluran air.

"saya harap semua masyarakat juga bersinergi membantu kami. Karena mengatasi ini perlu saling merangkul dan bekerja sama, tidak mungkin kami atasi sendiri. Disamping kami perbaiki infrastruktur dan pengerukan, kesadaran masyarakat juga penting untuk tidak membuang sampah sembarangan," kata Molen, Rabu (6/11/2019).

Dia menyebutkan, penanganan banjir memerlukan proses karena buangan air ini disebabkan dari hulu ke hilir. Sedangkan Pangkalpinang terutama kawasan langganan banjir seperti di Kelurahan Gedung Nasional, wilayahnya berbentuk cekungan mirip wajan yang menjadi penampung air dari hulu. Dia pun tidak memungkiri banjir disebabkan karena aktivitas tambang ilegal yang menjarah aliran sungai sehingga menyebabkan sedimentasi.

"kami terus berupaya menertibkan ini. Tapi kami mohon kesadaran oknum penambang, kami lakukan secara persuasif agar tidak menyakiti hati masyarakat dan menimbulkan anarkis. Tambang ini tidak bisa dibiarkan, yang kena imbas masyarakat kalau banjir seperti ini," tambah Molen.

Permasalahan banjir menurut Molen, tidak bisa diatasi dengan ujug-ujug selesai. Tapi minimal bisa dikecilkan potensi tersebut dan dipersiapkan apabila peristiwa itu terjadi. Tidak dipungkiri beberapa kawasan meskipun hujan tidak deras namun tetap tergenang, lantaran bentuk wilayahnya. Saat ini terjadi, kata Molen, pihaknya telah mempersiapkan posko di tiap kecamatan dan petugas akan selalu monitor kawasan tersebut. Baik untuk membantu maupun mengevakuasi apabila diperlukan.

Molen tidak menargetkan permasalahan banjir bisa tuntas. Dia hanya meminta semua pihak membantu berupaya mengatasi permasalahan ini bersama.

"saya tidak pasang target. Yang penting saja kerja dan upayakan itu. Biarlah Tuhan yang melihat dan masyarakat yang menilai. Kini saatnya kita untuk bersinergi, jangan saling menghujat dan menyalahkan. Tugas kita membangun Pangkalpinang secara bersama," ucap mantan pejabat Ogan Komering Ulu tersebut.

Pihaknya juga menggandeng organisasi kepemudaan untuk membantu permasalahan ini. Mereka berinisiatif memberikan solusi dan siap membanti pemerintah. Seperti karang taruna dengan idenya membersihkan sungai rangkui dan dibantu oleh seluruh OPD. Kemudian Pemuda Pancasila dengan ide pembuatan biopori di tiap rumah warga maupun HIPMI yang membantu menyebarluaskan informasi cuaca melalui media sosial kepada masyarakat.

Sebelumnya, pada Senin kemarin, hujan deras sekitar tiga jam merendam kawasan yang memang menjadi langganan banjir. Genangan setinggi 50 centimeter tersebut merendam kawasan Gedung Nasional dan sekitarnya, Bukit Sari, Kampung Opas maupun Kampung Bintang.

(bangkapos.com/irakurniati)

Penulis: Ira Kurniati
Editor: khamelia
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved