Mengenal Sosok Akhmad Elvian Sejarawan dan Budayawan Bangka Belitung

19 tahun silam seorang pria yang berstatus sebagai kepala sekolah di salah SMA di Sungailiat, memutuskan untuk mempelajari sejarah

Mengenal Sosok Akhmad Elvian Sejarawan dan Budayawan Bangka Belitung
bangkapos.com/Ira Kurniati
Sejarawan dan Budayawan Bangka belitung, Akhmad Elvian 

Mengenal Sosok Akhmad Elvian Sejarawan dan Budayawan Bangka Belitung

BANGKAPOS.COM - 19 tahun silam seorang pria yang berstatus sebagai kepala sekolah di salah SMA di Sungailiat, memutuskan untuk mempelajari sejarah dan budaya masyarakat di Bangka belitung. Dia lah Akhmad Elvian, yang kini dinobatkan oleh masyarakat sebagai Sejarawan dan Budayawan Bangka belitung.

Elvian mulai menelusuri berbagai identitas dan jati diri sejarah budaya di Bangka belitung, mulai dari mendatangi sumber primernya, mencari di arsip nasional, perpustakaan nasional, museum hingga mencari oral histori dari orang terdahulu. Hal ini dilakukan Elvian lantaran ada kekhawatiran dalam dirinya, sejarah dan budaya di Kepulauan Bangka belitung akan terlupakan. Padahal bangka belitung merupakan kepulauan yang bersejarah dan pernah menjadi satu provinsi dengan Sumatera selatan.

"Awalnya ini ketika Babel mulai menjadi provinsi yang pisah dari Sumatera selatan, ada kekhawatiran dalam diri saya jika identitas dan jati diri ini tidak dimunculkan, Babel seolah-olah sejarah kepulauan yang dilupakan atau kepulauan sejarah terlupakan," kata Elvian memulai ceritanya, Rabu (6/11/2019).

Kekhawatiran anak cucu generasinya tidak bisa mengenal sejarah yang membuat Elvian memulai penelusurannya mencari jati diri dan identitas sejarah tersebut. Dia pun rela merogoh kocek ketika bepergian ke arsip nasional hingga musem nasional atau berkeliling daerah di demi mencari sumber primer sejarah tersebut. Bahkan Elvian bertandang ke Belanda demi mengetahui sejarah kolonial belanda.

"Saya memang senang membaca dan menulis sesuatu yang lebih dari tingkatan usia saya. Pas SD sampai guru tidak percaya dengan tulisan saya karena yang saya tulis berbeda dengan tulisan anak seusia ini," lanjutnya.

Mencari, mempelajari dan menulis kembali sejarah tersebut tidaklah mudah. Elvian mengatakan, untuk satu topik saja misalnya mencari sejarah kota Pangkalpinang dibutuhkan waktu minimal satu tahun. Semua itu memakan waktu cukup lama karena harus mencari sumber-sumber sejarahnya, baik buku atau oral histori orang yang pernah berada pada waktu sejarah itu. Kemudian melakukan pembandingan-pembandingan dengan sumber lain bahkan hingga ke pelosok-pelosok daerah. Tidak sampai situ, setelah data yang diperlukan sudah dikumpul maka harus dibaca dan dipelajari dulu. Biasanya catatan sejarah berupa tulisan tangan untuk itu harus disalin, diterjemahkan dan dituliskan kembali.

"Bukan sekedar menulis, tetapi diteliti. Dan itu semua saya lakukan sendiri. Apalagi kalau tulisan bahasa Belanda, harus diterjemahkan, disalin lagi, tentunya tidak cepat prosesnya," ujar pria yang kini menjabat sekretaris DPRD Pangkalpinang itu.

Melakukan penelitian sejarah, menulisnya kemudian menjadikan buku yang bisa dibaca oleh masyarakat, kata Elvian sangat membutuhkan proses dan waktu panjang. Tak heran jika keluarganya pernah protes karena waktu untuk keluarga menjadi berkurang. Bapak tiga orang anak itu sempat diprotes lantaran kesibukannya tiap pagi hingga tengah malam dengan aktivitas meneliti sejarah. Kendati demikian, keluarga tetap mendukung dan lama-kelamaan memahami.

"Kalau libur saya kualitaskan untuk keluarga. Kami biasanya jalan-jalan ke tempat-tempat sejarah, saya sembari meneliti, mereka foto-foto," katanya.

Belasan tahun bergelut dan terus menerus mencari sejarah dan budaya daerah-daerah di Bangka belitung, hingga saat ini Elvian belum merasa puas. Bagi dia masih banyak kampung-kampung yang mesti ditelusuri sejarahnya.

"Sampai akhir usia saya rasa itu tidak akan cukup untuk menggali sejarah ini. Tapi saya terus mencari dan menulis agar apa yang saya hasilkan bisa menjadi acuan bagi pelajar, mahasiswa, instansi dan seluruh masyarakat. Jangan sampai orang-orang tidak tahu sejarah kita," tutur pria kelahiran asli Pangkalpinang ini.

Dari penelitian sejarah ini, Elvian berhasil menuliskan buku sekitar 32 buku dan menerima berbagai penghargaan atas dedikasinya terhadap sejarah dan budaya. Buku-buku yang ditulis diantaranya Kampoeng di Bangka jilid I dan II Setengah Abad Kota Pangkalpinang sebagai Daerah Otonom, Pakaian Adat dan Pakaian Adat Pengantin Paksian serta Upacara Adat Perkawinan Kota Pangkalpinang, Ungkapan Tradisional Kota Pangkalpinang, Permainan dan Alat Musik Tradisional Kota Pangkalpinang.

Penghargaan yang diberikan diantaranya Anugerah kebudayaan nasional, pin emas pemerintah kota Pangkalpinang, pelestari kebudayaan dari pemprov Babel hingga Darjah Pangeran Mahkota dari Kesultanan Palembang Darussalam.

(bangkapos.com/irakurniati)

Penulis: Ira Kurniati
Editor: Evan
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved