Breaking News:

Kisah Keluarga Kaya Raya yang Punya 200 Budak ada Pekerja Khusus Buat Sambal dan Sanggul Rambut

Pada tahun 1775, orang kaya lainnya, Riemsdijk tinggal di Tijgersgracht (Jalan Pos Kota sekarang--Red) mempekerjakan 200 orang budak

Editor: M Zulkodri
Kisah Keluarga Kaya Raya yang Punya 200 Budak ada Pekerja Khusus Buat Sambal dan Sanggul Rambut
Legatum Foundation
Ilustrasi: Perbudakan

BANGKAPOS.COM--Teriakan frustasi ibu-ibu rumah tangga di Indonesia yang ditinggal mudik pekerja rumah tangga tak akan mungkin terdengar pada masa Jakarta tempo dulu sekitar abad ke-17.

Pasalnya, pada masa itu, Jakarta yang disebut Batavia sudah 'impor' budak dari luar Jawa--seperti dikutip dari F De Haan dalam bukunya Oud Batavia ( Batavia:G Kolff & Vr, 1922).

Untuk impor budak dikenakan pajak tertentu.

Tetapi berapa besarnya pajak itu tidak jelas karena uang pajak lebih sering 'ketinggalan' di kocek syahbandar Batavia ketimbang masuk ke kas Pemerintah Hindia Belanda.

Ada lagi kebiasaan yang cepat menjadi tradisi yakni rombongan budak baru saja tiba di Batavia biasanya diperlihatkan dulu kepada pejabat-pejabat Batavia.

Orang-orang penting itu berhak memilih dan membeli budak yang disukainya dengan harga modal.

Berapa banyak budak yang didatangkan ke Batavia?

Satu-satunya angka pasti tentang jumlah budak adalah catatan dari masa pemerintahan Gubernur Jenderal Van der Parra (1761-1775).

Ketika itu, 4.000 budak per tahun didatangkan ke Batavia. Para pakar memerkirakan bahwa jumlah itu lebih sedikit ketimbang tahun-tahun sebelumnya.

Alasannya, belum banyak orang menggunakan tenaga budak dan tingkat kematian budak Batavia belum terlalu tinggi.

Dalam satu surat, Cornelia Johanna Bevere bercerita, pada tahun 1689 memiliki 59 budak membantu mengurus rumah tangga sebagai pengantin anyar di Batavia.

Pada tahun 1775, orang kaya lainnya, Riemsdijk tinggal di Tijgersgracht (Jalan Pos Kota sekarang--Red) mempekerjakan 200 orang budak (lelaki, perempuan dan anak-anak).

Dua ratus orang budak dalam satu rumah!

Namun, rata-rata rumah tangga di Batavia tidak memiliki budak sebanyak itu.

Mereka yang tidak kaya, hidupnya lebih sederhana.

Von Wurm tinggal di Batavia pada tahun 1775 hanya mempunyai dua budak.

Satu budak untuk mengurus rumah tangganya dan seorang budak lagi untuk memegang payungnya bila dia keluar rumah.

Halaman
123
Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved