Berita Sungailiat

Penarik Becak Motor Keluhkan Beratnya Kenaikan Iuran BPJS, Minta Pemerintah Perhatikan Nasib Buruh

Iskandar penarik becak motor mengeluhkan kenaikan iuran BPJS sangat memberatkan masyarakat yang pekerjaannya sebagai buruh harian.

Penarik Becak Motor Keluhkan Beratnya Kenaikan Iuran BPJS, Minta Pemerintah Perhatikan Nasib Buruh
Bangkapos.com/RiKi Pratama
Penarik Becak Motor Iskandar yang sedang mangkal menunggu penumpang di Pasar Kite Sungailiat, foto diambil, Rabu (13/11/2019) 

BANGKAPOS.COM,BANGKA-- Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 75 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2018 tentang Jaminan Kesehatan menetapkan kenaikan iuran BPJS Kesehatan.

Penjelasan mengenai kenaikan iuran BPJS Kesehatan sebesar 100 persen terangkum dalam Pasal 34 Perpres Nomor 75 Tahun 2019.

Berikut besarnya kenaikan iuran BPJS Kesehatan, yakni kelas III dari Rp 25.500 menjadi Rp 42.000, kelas II dari Rp 51.000 naik jadi Rp 110.000, dan kelas I dari 80.000 menjadi Rp 160.000.

Akibatnya, kenaikan menambah beban keuangan rakyat, apalagi dalam satu rumah menanggung lebih dari dua orang.

Dari kenaikan iuran BPJS Kesehatan Bangkpos.com, sempat menanyakan ke beberapa penarik becak motor di Pasar Kite Sungailiat, kebanyakan mereka merasa keberatan dan sangat terbeban dengan naiknya iuran BPJS Kesehatan naik.

Seperti diungkapkan penarik Becak motor, Iskandar, saat ditemui di Pangkalan Becak Pasar Kite Sungailiat, mengaku kenaikan ini sangat memberatkan masyarakat yang pekerjaannya sebagai buruh harian.

"Tentu sangat memberatkan masyarakat dengan kenaikan iuran BPJS Kesehatan yang dua kali lipat, mana penghasilam kita hari-harinya pas-pasan, ditambah Iuran BPJS Kesehatan naik, nanti listrik naik, makin tahun makin naik, sementara satu hari dapat seratus saja susah, seharusnya Pemerintah itu pikirkan kita yang buruh ini,'' keluh Iskandar sambil mengeleng-gelangkan kepalanya, kepada Bangkapos.com, Rabu (13/11/2019).

Menurutnya, saat ini menjadi Anggota BPJS Mandiri, untuk kelas tiga, dimana tiga orang termasuk dirinya harus membayarkan iuran tiap bulannya.

"Saya anggota BPJS Mandiri yang ditanggung tiga, saya, istri dan satu anak saya, itu masuk kelas tiga, yang setiap bulan selalu saya bayarkan," ungkap Iskandar yang telah belasan tahun menjadi penarik becak ini.

Dari kenaikan BPJS Kesehatan ini, Iskandar mengaku kedepan kemungkinan banyak warga akan beralih kelas, bukan turun kelas lagi, karena mahalnya iuran namun tidak diimbangi dengan pelayanan.

"Mungkin bisa pindah kelas, bukan turun kelas, akan pindah ke dukun (orang pintar) itu bisa saja terjadi melihat mahalnya iuran," tegas Iskandar.

Asmawi, rekan sesama penarik becak motor juga keberatan dengan kenaikan iuran BPJS. Ia mengeluhkan selalu menombok setiap bulan untuk membayar BPJS Kesehatan.

"Dimana yang menjadi tanggungan ada enam orang, anak empat, saya sendiri dan istri, itu semua istri yang urus, kami juga selalu menombok bila tidak cukup, ada satu yang tidak di bayar, untuk menutupinya," ungkap Asmawi

Tentunya, dengan kenaikan Iuran BPJS ini dirasakan berat bagi Asmawi karena besarnya biaya iuran yang harus dibayarkan, tidak sebanding dengan penghasilan mereka yang menarik becak motor tiap harinya.

"Tentunya sangat berat lah pak, dimana penumpung sepi, dengan naiknya BPJS Kesehatan ini, istri juga ada bicara, mau pindah ke asuransi lainya, karena lebih murah iuranya," ujar Asmawi. (Bangkapos.com/Riki Pratama)

Penulis: Riki Pratama
Editor: nurhayati
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved