Berita Pangkalpinang

Tim Natak Sejarah dan Budaya Dengarkan Sepenggal Kisah Para Veteran Bangka Belitung

Tubuhnya memang tidak sekekar dulu, pendengarannya pun sudah mulai berkurang karena termakan usia, namun semangatnya masih tinggi

Tim Natak Sejarah dan Budaya Dengarkan Sepenggal Kisah Para Veteran Bangka Belitung
Bangkapos.com/Ira Kurniati
Dua orang veteran di Pangkalpinang saat dikunjungi Tim Natak Sejarah dan Budaya, Senin (18/11/2019) 

BANGKAPOS.COM,BANGKA-- Langkah kakinya berjalan perlahan ketika suara salam terdengar dari beranda rumah, dengan pakaian legiun veteran berwarna kuning kecoklatan dilengkapi topi kuningnya, veteran pejuang kemerdekaan ini menyambut rombongan Tim Natak Sejarah dan Budaya dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pangkalpinang.

Dia lah Amir, veteran yang mengabdikan dirinya kepada negara sejak puluhan tahun silam.

Tubuhnya memang tidak sekekar dulu, pendengarannya pun sudah mulai berkurang karena termakan usia, namun semangatnya masih tinggi saat menceritakan kisah perjuangannya menjadi seorang Tentara Nasional Indonesia 68 tahun silam.

"Saya waktu itu menjadi pasukan yang turut memberantas DI TII tahun 1960. Pada saat PKI juga kami diperintahkan oleh korstad yang pada waktu itu pak Suharto, saya bersama pasukan mengangkat jenazah para jendral dari lubang buaya itu menggunakan mobil tank," jelas Amir memulai ceritanya, Senin (18/11/2019).

Dia memulai karirnya sebagai TNI pada usia 17 tahun ditahun 1959. Banyak gejolak dan permasalahan yang waktu itu dihadapi pasukannya dalam mempertahankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hingga pada akhirnya, ditahun 1980 dia mendapat tawaran dari pimpinannya untuk ikut perusahaan Timah di Bangka.

"Jadi saya dikaryakan di Timah Bangka, itu pun juga karena saya yang mau dan ada tawaran. Seiring berjalan ternyata saya bertemu jodoh di sini dan menetap hingga saat ini," cerita bapak empat orang anak itu.

Menurut Amir, generasi saat ini tidak lagi berjuang melawan penjajah. Tetapi berjuang untuk melawan pemecahbelah bangsa yang bisa datang dari mana saja.

Dia berpesan, generasi penerusnya untuk dapat menjaga persatuan dari ujung Aceh hingga Merauke.

"Kita ini negara kesatuan, tidak ada Sabang atau Merauke, tapi kita indonesia. Siapa yang berani menghancurkan, pecahkan dulu dada para pejuang 45 yang masih ada," ujar Amir penuh semangat, matanya berkaca-kaca dan kedua tangannya mengepal menandakan rasa perjuangannya masih tinggi.

Selain Amir, Natak Sejarah dan Budaya juga berkunjung ke empat rumah veteran lainnya, diantaranya, Sofan, Muhibin dan Agus. Di Bangka belitung terdapat 19 orang veteran dan 10 diantaranya menetap di Pangkalpinang. (Bangkapos.com/Ira Kurniati)

Penulis: Ira Kurniati
Editor: nurhayati
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved